Trotoar

tempat bertemu dan berpapasan.....

Rabu, 01 Februari 2012

TATA DESA


Desa tidak sama dengan kota, desa identik dengan sepi, terbelakang dan miskin, sementara kota identik dengan keramaian, serba maju, dan serba ada. Maka tidak mengherankan jika masyarakat cenderung melakukan perpindahan dari desa ke kota, atau menetap di desa namun dengan gaya hidup kota, seolah-olah memindahkan miniatur kota ke desa. Sebagai contoh salahsatu desa yang mayoritas penduduknya adalah TKW di Kerawang – Jawa Barat. Saking ingin majunya seperti kota,di desa tersebut telah terbangun kios Alfamart dan rumah-rumah para TKW yang berdinding keramik, dari mulai batas plafond hingga lantai rumah, seluruh dinding tertutup keramik. Berapa biaya yang dikeluarkan, dan apa fungsinya dinding keramik tersebut ? Sementara untuk buang air besar mereka tetap tidak menyediakan jamban yang memadai di rumah masing-masing, dan tidak ada saluran pembuangan air kotor yang layak. Ada juga rumah penduduk miskin di desa tersebut yang sangat tragis, karena hanya berukuran 3 x 2 meter persegi, bisa disebut bilik, yang isinya adalah tempat tidur kompor minyak dan dibawah tempat tidur adalah tempat tinggal bebek. Jadi bisa dikatakan pemilik rumah tersebut tidur di kandang bebek. Inilah salahsatu contoh kekacauan dalam menata lingkungan. Namun terdapat juga contoh yang baik, yaitu suatu desa di Kecamatan Samigaluh pada dataran tinggi di Kulon Progo Yogyakarta. Walaupun rumahnya masih berdinding bilik bambu, dan hanya ada warung-warung sederhana, namun cukup bersih dan tertata. Antara rumah dan kandang diberi jarak yang memadai, terlihat ada pemisahan zona bersih dan zona service. Toilet mereka masih sederhana, namun terjaga kebersihannya, saluran air kotor juga tertutup, sehingga tidak menebar bau yang tidak sedap. Umumnya memang desa yang aksesnya sangat jauh dengan kota cenderung lebih tertata, namun yang menempel dengan kota besar atau dilintasi jalan nasional, seperti Pantura dan Lintas Sumatera cenderung kumuh, karena merupakan daerah transisi yang bermimpi seperti kota, tapi tidak dibarengi perilaku yang memadai dan siap menerima perubahan cepat sebagaimana masyarakat kota. Selain itu, saat ini terdapat juga desa yang menjadi area wisata di pulau-pulau kecil, yang justru sangat jauh dari pantauan pemerintah, berkembang pesat menjadi bukan dirinya karena telah berubah total, sebagai contoh desa di Gili Trawangan dan Gili Meno di NTB. Di sana menjadi sulit menemui rumah penduduk asli, karena telah dibangun hotel-hotel, dengan menu internasional. Penduduk asli hanya tinggal di rumah-rumah bilik, sekedar untuk dapat menyambung hidup.

Padahal kita semua tahu mayoritas daerah di Indonesia adalah desa, maka jika desa dengan penataan yang salah menjadi kian banyak, maka dapat dibayangkan berapa banyak lingkungan di negeri ini yang akan menjadi slum / daerah kumuh. Selain daripada itu kita perlu menjadikan desa bukan hanya tempat singgah tidur atau istirahat akhir pekan bagi penduduknya, tapi desa juga harus mampu menjadi tempat untuk mencari nafkah, dan menuntut ilmu bagi penduduknya. Dengan kata lain desa harus mampu memberikan pencerahan yang nyata bagi penduduknya.

Dalam Tata Desa kita tentunya perlu melihat sasaran atau APA yang akan ditata, yaitu :
1. Manusia yang hidup di desa tersebut;
2. Lingkungan yang menjadi bagian dari daerah desa tersebut.

MENGAPA manusia dan lingkungan perlu atau bahkan harus ditata ?
Supaya mereka dapat berinteraksi secara baik, saling mendukung, sehingga terjadi simbiose mutualisme, baik antar sesama manusia, seluruh aspek lingkungan dan antara manusia dan lingkungan. Hubungan yang baik ini dapat memunculkan harmonisasi, hingga kehidupan yang ada di desa tersebut dapat berlangsung dengan nyaman,aman, sehat, dan lestari.

Lalu jika kita sudah tahu alasannya, maka kita akan menelusuri BAGAIMANA kita akan dapat melakukan Tata Desa ?
Menata desa dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut :

1. TAHAP 1 : Sebagaimana makna kata desa sebagai satu kesatuan yang punya ikatan, maka kita harus tahu dan telusuri terlebih dahulu IKATAN DESA tersebut, artinya KITA HARUS PAHAMI SEJARAH DESA, sebelum kita mulai menatanya. Jangan kita menata sesuatu yang tidak kita pahami asal muasalnya. Karena akan menimbulkan perombakan yang justru akan melenyapkan jatidiri suatu hal tersebut, termasuk dalam hal ini desa. Tujuan kita adalah menata, bukan merombak atau menjadikan desa tersebut sebagai sesuatu yang baru. Ibarat seorang anak kalau dia gadis desa yang lugu dan manis jika tanpa banyak pakai make up, maka jangan didadani seperti rocker, yang rambutnya dicat, dan berlipstik unggu – akan jadi makhluk aneh nantinya. Hal pokok yang harus diketahui dari sejarah desa, selain LATAR BELAKANG dibentuknya desa adalah TUJUAN DESA.

2. TAHAP 2 : Dengan berpedoman pada sejarah desa, maka kita memulai tahap IDENTIFIKASI KONDISI DESA SAAT INI, yaitu :
1) Kondisi Manusia
a. Pola hidup manusia sebagai individu;
b. Pola interaksi dengan sesama manusia (termasuk dalam hal ini hukum adat yang ada di desa, yang mengatur interaksi sosial desa);
c. Pola interaksi dengan lingkungan (termasuk dalam hal ini hukum adat yang ada di desa, yang mengatur interaksi manusia dengan lingkungan desa);
d. Kondisi force majeure dengan faktor utama manusia yang berulang terjadi atau cukup dahsyat (tawuran, kebakaran karena ulah manusia, dsbnya).

2) Kondisi Lingkungan
a. Tanah (batas tanah desa, kondisi tanah, tingkat kesuburan, presentase daerah resapan dsbnya);
b. Air (kondisi mata air, mutu air, resapan air, siklus dan curah hujan, dsbnya);
c. Angin (intensitasnya, arahnya, pengaruhnya kepada kehidupan sehari-hari, dsbnya);
d. Tumbuhan (jenisnya, habitatnya dan siklus tanam/panennya, penyakitnya);
e. Binatang (jenisnya, habitatnya, penyakitnya dan adakah yang menimbulkan penyakit bagi manusia/lingkungan lainnya).
f. Kondisi force majeure dengan faktor utama lingkungan/alam, yang berulang terjadi dengan/tanpa siklus, atau cukup dahsyat (bencana alam – tanah longsor, banjir, puting beliung, serangan binatang buas, dsbnya).

3. TAHAP 3 : Dari identifikasi kondisi yang ada kita dapat memilah aspek positif / negatif, sebagai berikut :

1) Potensi :
a. Potensi dari Manusia
b. Potensi dari Lingkungan

2) Hambatan / Kendala :
a. Hambatan / Kendala dari Manusia
b. Hambatan / Kendala dari Lingkungan

3) Ancaman / Hal yang harus diwaspadai :
a. Ancaman dengan faktor utama Manusia
b. Ancaman dengan faktor utama Lingkungan

4. TAHAP 4 : Setelah potensi, hambatan dan ancaman diketahui, maka kita dapat membuat RANCANGAN, dengan mengacu pada :

1) PENCAPAIAN TUJUAN DESA. Adakah tujuan desa yang belum tercapai, dan jika sepintas semua telah tercapai, maka kita beralih pada

2) BAGAIMANA MENJAGA DESA TERHADAP ANCAMAN YANG ADA. Jika sepintas ancaman tidak ada yang serius, maka kita beralih pada

3) BAGAIMANA MENGATASI HAMBATAN/KENDALA YANG ADA. RANCANGAN TERSEBUT HARUS MEMILIKI SKALA PRIORITAS UNTUK DISELESAIKAN. Bukan tidak mungkin ada overlapping antara pencapaian tujuan desa dengan upaya menjaga desa terhadap ancaman yang ada, atau terhadap upaya mengatasi hambatan/kendala yang ada di desa.

5. TAHAP 5 : Jika tujuan desa telah terpenuhi, sudah tidak ada ancaman, hambatan / kendala yang berarti, maka dapat dilakukan PENGEMBANGAN DESA, yaitu dengan mendorong seluruh daya desa agar dapat bersinergi dengan lingkungan / kesatuan komunitas yang lebih luas secara harmonis, serta mampu menampung segenap aspirasi masyarakatnya. Pengembangan desa ini merupakan upaya realisasi agar desa mampu memberikan pencerahan yang nyata bagi penduduknya. Desa dapat menjadi tempat berteduh, belajar dan berkarya, intinya desa mampu menjadi ruang hidup bagi upaya positif masyarakatnya.

Seluruh proses Tata Desa dilaksanakan dengan mengutamakan gotong-royong, musyawarah dan mufakat, sehingga partisipasi penduduk desa menjadi berjalan dengan baik. Karena desa bukan milik orang perorang atau kelompok tertentu, sehingga penting juga adanya upaya meminta masukan dari orang-orang yang selama ini terpinggirkan, yang pada umumnya lebih merasakan kebutuhan yang paling essensial dan paling memiliki banyak hambatan / kendala untuk hidup layak di desanya sendiri. Masyarakat di desa tanpa kecuali memang seyogyanya diberi ruang untuk berekspresi dan berpeluang untuk mencapai sumber daya, yang mereka masing-masing inginkan.

Jika kita simak baik-baik upaya menata desa, bagaimana rumitnya dan berapa banyak energi yang digunakan, serta berapa banyak keahlian dan ketrampilan yang dibutuhkan. Lalu jika kita melihat jumlah desa di Indonesia, maka kita akan lihat berapa banyak tenaga ahli dari beragam disiplin ilmu yang dibutuhkan. Kita akan sadari bahwa sebenarnya Penataan Desa adalah peluang besar lapangan kerja di seluruh Indonesia. Setiap desa perlu beberapa disiplin ilmu khusus, karena masing-masing desa memiliki kondisi yang berbeda-beda. Untuk identifikasi kondisi desa kita membutuhkan orang-orang yang punyai standarisasi sama, yaitu logika yang cukup baik, atau boleh kita sebut sarjana, yang tekun dan tidak membutuhkan kemampuan analisa yang harus diasah pengalaman, sehingga bisa kita katakan porsi ini dapat ditanggani oleh para sarjana yang baru lulus/fresh graduate. Sementara untuk tahap berikutnya membutuhkan analisa yang cukup tajam dan perlu diasah oleh pengalaman untuk memberikan masukan bagi masyarakat, dalam proses pengambilan keputusan, tahap ini ditanggani oleh sarjana yang telah berpengalaman. Berdasarkan website Wikipedia, jumlah desa di Indonesia adalah sebanyak 62.806 desa, maka jika dalam setiap desa ditanggani oleh 3 orang sarjana, maka di Indonesia pada saat ini dibutuhkan 188.418 orang sarjana untuk bekerja di desa. Yang non sarjana tentunya dapat membantu menjadi kader desa yang sifatnya mendampingi masyarakat dalam penataan desa sehari-hari sesuai minat dan kemampuan masing-masing, contoh : kader kesehatan, kader pendidikan dasar, dan sebagainya. Maka Penataan Desa sebenarnya merupakan langkah effektif untuk menanggani masalah pengangguran di negara ini. Penataan desa tidak dilakukan hanya dalam sekali putaran tahapan, namun justru terus-menerus berkembang, hingga melampaui usia penduduk desa itu sendiri.

Jakarta 23 Februari 2008
Diposting oleh Rinawati di 00.15 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 10 April 2011

ENERGI RAKYAT DAN ALUR SINETRON


Pagi ini ada hal yang sedikit mengusik diri saya. Tak lain dan tak bukan adalah tentang Pembangunan Gedung DPR MPR RI yang baru. Ada sedikit hal yang menurut orang Jawa bilang "Wagu" (ini bukan waria blagu lho...) yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kira-kira artinya adalah tidak pas..., yaitu ketika Bapak Presiden SBY menyatakan tidak setuju dengan pembangunan gedung tersebut pada saat ini, dan Bapak Marzuki Alie justru akan tetap melanjutkan rencana ini. Keduanya dari partai yang sama, tapi keduanya punya pemikiran yang berbeda. Salahsatunya mengatakan demi kepentingan masyarakat dan agar tidak melukai hati masyarakat, sedangkan salahsatunya mengatakan ini semua sudah keputusan fraksi-fraksi. Yang satunya adalah Pemimpin Negara, yang satunya adalah Wakil Rakyat, yang sudah sepantasnya keduanya berpihak kepada rakyat. Sehingga nampak sekilas, seolah-olah di kubu Demokrat sendiri tidak solid.

Apakah hal ini tidak agak mirip dengan permasalahan di PKB yang berujung pada nasib Bu Lily Wahid dan Gus Choi ? Nampaknya tidak sama persis, ada sesuatu yang terasa berbeda, minimal ini pendapat dan kegundahan saya. Mohon maaf tentunya jika saya salah dan mungkin terlalu berprasangka, karena ketika Bu Lily Wahid dan Gus Choi berseberangan dengan partainya maka langsung ada tindakan keras terhadap mereka, seolah justru mereka adalah orang yang sudah berkhianat, padahal jelas mereka menyuarakan pendapat masyarakat yang mereka wakili (walau mungkin tidak semua) tapi minimal beda suara itu hak dan sah saja pada mekanisme demokrasi seperti ini. Tapi lalu kemudian ketika Marzuki Alie berbeda pendapat dengan SBY, tentunya karena SBY tetap memegang 3 posisi kunci, yaitu Ketua Dewan Pembina 2010 - 2015, Ex-Officio Ketua Dewan Kehormatan dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, maka ... seyogyanya tak ada kesulitan yang berarti jika atas prakarsa Presiden SBY diadakan pertemuan khusus dalam tubuh Demokrat untuk segera mengupayakan penyatuan persepsi dan pendapat terkait dengan rencana pembangunan gedung baru ini. Jika sampai detik ini wacananya masih berupa : "Pembangunan gedung baru DPR bisa ditunda jika rakyat menghendaki". Meskipun sebenarnya...sudah cukup jelas dan gamblang bahwa rakyat tidak menghendaki, terbukti dengan gerakan LSM, mahasiswa, para pendidik (Rektor, Dosen, Guru, dll) menentang rencana ini. Ini memang hal yang meurut saya "wagu", apalagi kalau dinyatakan gugatan rakyat itu belum memenuhi kuorum atau belum mewakili. Lha..apa iya semua rakayt harus ke gedung DPR ? Nanti ngga cukup....nanti malah bingung...dikira demo besar-besaran lagi....(repot khan...)

Jadi penyelesaian polemik pembangunan gedung DPR ini mohon jangan dibuat panjang-panjang....karena ini akan menghabiskan energi kita semua. Cobalah energi kita alihkan untuk menangani wabah ulat bulu, yang membuat saudara-saudara kita di Jatim, Jateng dan Bali benar-benar tersiksa hidupnya. Kenapa rakyat harus terus-menerus membahas kelayakan para Pemimpinnya, mulai dari Kepolisian, Keuangan, Kejaksaan, KPK, DPR, dstnya...(katanya sudah ahlinya, sudah arif dan bijaksana...kok masih dinilai lagi kelayakannya ? kok masih harus diawasi lagi perilakunya ?) Kok bukan mereka yang sepenuh jiwa raga memikirkan rakyatnya??? apakah benar semua rakyat bangsa ini bisa makan 3 kali sehari ??...Belum pernah dipastikan khan... (tapi ya...apa memang pernah dipikirkan ???).

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, sebagai rakyat, karena biar bagaimanapun SBY adalah Presiden dan Pak Marzuki adalah Ketua Dewan yang terhormat, maka saya sebagai bagian dari rakyat ini akan tetap berupaya yang terbaik (walau cuma setitik tetesan air hujan, karena toh saya tetap tak bisa berbuat lebih daripada yang cuma secuil) untuk rakyat, bangsa dan negara yang saya junjung ini.

Upaya saya hanyalah mampu sedikit berpesan untuk teman-teman, karean sudah sepantasnya kita hidup untuk saling mengingatkan, bahwa dalam mensikapi situasi yang selalu memainkan emosi kita sebagai rakyat, maka ibarat permainan tinju kita harus waspada. Saat ini rakyat seperti sedang dibuat habis nafasnya oleh permainan lawan yang berubah-ubah arah, sebentar menyerang dari samping kanan, lalu dari bawah, yang bawah melemah tapi berikutnya muncul dari samping kiri. Kadang lawan pura-pura sempoyongan, padahal ketika rakyat mendekat malah diserang langsung dari sisi tengah. Sehingga wajah rakyat itu sudah bonyok, babak belur, berdarah tak keruan, mungkin matanya pun sudah tidak jernih lagi untuk melihat. Saya tidak akan mengatakan siapa lawan kita, tapi saya menghimbau untuk semua fokus memerangi hal-hal yang dapat melukai (baik jiwa maupun raga) rakyat Indonesia. Tapi kita harus waspada pada isu pokok, yaitu perangi kultur yang tidak baik (termasuk korupsi, dan lain-lain) dan tegakkan hukum sebaik-baiknya, upayakan hukum demi keadilan rakyat bukan demi kekuasaan apalagi keuntungan sesaat. Waspada pada apapun, dan siapapun yang berupaya memancing di air keruh, seolah ia dewa penyelamat, padahal itu adalah bagian dari permainan juga...(paham khan maksud saya).

Saya hanya ingin menghimbau, untuk kita semua jangan menghabiskan waktu pada hal-hal yang memang sudah disiapkan untuk pengalihan isu dan hal-hal mana yang pokok. Selayaknya semua permasalahan korupsi lebih ditangani secara gamblang, jelas, dan tuntas. Bukan ketika muncul isu baru lalu kemudian seolah dilupakan, bahkan nantinya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan pergantian kepemimpinan.

Ibarat sebuah tayangan film, saat ini seperti menuju akhir cerita (sekali lagi ini sekedar pendapat saya...) dimana para tokoh memang sudah mulai mengokang senapan masing-masing, sambil sudah saling mengintip gerakan lawan, dan sebentar lagi tontonan tembakan-tembakan akan dimulai. Biasanya di penghujung sesi tembakan-tembakan, akan ketahuan tokoh utamanya, biasanya kalau yang paling seru ada duelnya (tapi yang ini saya tidak tahu). Nah....selesai duel biasanya akan tampak keadilan Tuhan. Jarang ada film berani membuat cerita berlawanan dengan hukum alam (bahwa yang jahat akan menang), kecuali jika film tersebut dibuat berseri supaya produser bisa mendapatkan untung yang lebih banyak lagi. Tapi kalau Produser kali ini adalah Yang Maha Kuasa, apa mungkin Tuhan tega sama bangsa ini sehingga harus dibuat berseri lagi...lagi...dan lagi...macam Harry Potter dari sejak kanak-kanak samapai dewasa main film itu...terus...Saya yakin kok tidak, Tuhan pasti Maha Tahu bahwa rakyat NKRi sudah babak belur, kalau pertandingan dibuat lanjut lagi, atau filmnya dibuat berseri, bisa-bisa rakayt akan mati di atas ring, dan itu berarti Negara ini sudah gagal, dan proklamasi 17 Agustus 1945 tidak ada artinya lagi. Itu semua hanya menjadi cerita bahwa dulu pernah ada negara dan bangsa yang namanya Indonesia. Lantas, apa kita rela dan ikhlas dengan kemungkinan seperti itu ?? Kita lihat saja akhir film ini....semoga bukan seperti sinetron kejar tayang yang selalu berulang dan dapat berputar cerita, bahkan tiba-tiba muncul kembaran tokoh utama yang tidak pernah sama sekali digagas kapan kelahirannya.




Diposting oleh Rinawati di 17.45 3 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Sabtu, 09 April 2011

PROFESI KUNCI PEMERATAAN PEMBANGUNAN


Oleh Rinawati Sucahyo
telah dimuat pada http://fasilitator-masyarakat.org tanggal 28 September 2009


Indonesia memiliki keragaman kekayaan luar biasa. Jika kita diperkenankan mengatakan bahwa masyarakat adalah juga merupakan kekayaan negara, maka kekayaan yang berwujud masyarakat itu pun sangat luar biasa beragam. Di satu sisi, sifat heterogen masyarakat Indonesia ini menjadi suatu pekerjaan yang berat bagi pengelola negara. Namun di sisi lain, sebenarnya hal tersebut adalah keunikan, bahkan kekayaan yang luar biasa dari negeri ini, jika masyarakat tersebut mampu dibangun jiwa dan raganya dengan benar, sebagaimana pesan para pendiri bangsa ini melalui salah satu bait syair lagu Indonesia Raya.

Membangun jiwa dan raga masyarakat bukan pekerjaan ringan, terlebih dengan heterogenitas dalam segala hal yang melekat dengan keberadaan masyarakat itu sendiri. Pengelola negara ini tidak mungkin bekerja sendiri, tanpa bermitra dengan orang-orang yang mampu bekerja secara total dengan masyarakat. Pengelola negara memiliki batasan lingkup kerja, yaitu melayani masyarakat pada ranah regulasi dan administrasi negara. Batasan tersebut haruslah jelas dan ada, agar tidak terjadi lagi pengelola negara justru merasa sebagai penguasa negara. Hal ini yang terkadang menjadi salah kaprah. Pengelola negara bukanlah yang memerintah tapi mereka yang melayani masyarakat, sehingga akan lebih tepat jika disebut public service, bukan pemerintah.

Untuk itu pengelola negara membutuhkan bantuan dari orang-orang yang mampu mengerti keberadaan masyarakat, untuk selanjutnya mampu memberikan penyadaran serta pencerahan akan keberadaan masyarakat itu sendiri. Agar mereka sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, hingga memotivasi mereka untuk optimis dan berupaya mewujudkan cita-cita negara ini bersama-sama. Cita-cita negara ini bukan cita-cita parsial yang kadang berbenturan atau bahkan meruntuhkan cita-cita kelompok lain.

Hal tentang cita-cita negara membutuhkan kepekaan yang berawal dari pengelola negara itu sendiri. Bagaimana pengelola negara ini melayani masyarakat yang hidup dalam alam pikir serta lingkungan heterogen tersebut. Mereka harus terlebih dahulu sadar akan pentingnya menyatukan pandangan tentang cita-cita negara, hingga “tangan-tangan” yang berniat dan memiliki kapasitas untuk membantu mereka dalam membangun masyarakat negara ini dapat terarahkan dengan baik.

Mengapa cita-cita negara ini menjadi penting? Tentunya karena dalam melakukan suatu hal, terlebih dalam lingkup yang luas seperti upaya pembangunan masyarakat suatu negara, harus memiliki tujuan yang jelas. Tujuan pembangunan di suatu negara itulah yang kita sebut cita-cita negara. Tak heran jika cita-cita harus setinggi langit. Tentu maksudnya adalah agar sepanjang masa, bahkan hingga bergantinya peradaban, sepanjang negara itu ada, segala upaya meraih cita-cita dengan cara membangun dan menata negara ini akan terus ada.

Kita kembali pada adanya kebutuhan untuk masyarakat ini dibangun jiwa dan raganya, sebagaimana dijelaskan di atas tadi. Untuk membangun jiwa dan raga langkah pertama yang dibutuhkan adalah pendekatan, agar masyarakat tidak defensif, karena umumnya masyarakat heterogen pada awalnya bersifat defensif terhadap masuknya unsur baru dari luar kelompoknya, atau bahkan dari luar kerangka pemikiran lingkungannya. Untuk dekat dengan masyarakat, butuh orang yang memahami mereka, yang menurut mereka bisa diterima dan mampu menyatu atau lekat dengan mereka. Singkat kata, dibutuhkan pendamping masyarakat.

Pendamping masyarakat ini adalah pembantu pengelola negara dalam membangun jiwa dan raga masyarakat. Mereka bergerak di tingkat terbawah, mereka tinggal dan akrab dengan masyarakat dalam kesehariannya, sehingga mampu mengetahui adab kebiasaan, dan mengerti akan kelebihan dan kekurangan masyarakat di lingkungan tersebut, hingga akhirnya mampu menggali apa yang sejatinya paling dibutuhkan masyarakat.

Tahap awal pendampingan masyarakat adalah penyadaran akan hak dan kewajibannya. Jika masyarakat mulai sadar dan tergerak untuk berupaya bersama-sama, maka mereka membutuhkan pendampingan sekaligus fasilitasi untuk mengetahui potensi dan kendala yang ada pada mereka dan lingkungan sekitarnya. Upaya pendampingan dan fasilitasi pemahaman potensi dan kendala ini harus diiringi atau dibungkus dengan motivasi atau semangat membangun yang tinggi dan konsisten. Oleh karena itu, upaya memotivasi masyarakat dengan selalu mempertahankan antusiaisme mereka merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh para pendamping atau fasilitator masyarakat. Tanpa antusiasme mereka sendiri, maka keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan hanyalah suatu mobilisasi dan rekayasa pembangunan semata.

Masyarakat yang telah memiliki semangat dan keyakinan untuk aktif berperan dalam pembangunan membutuhkan tahapan berikutnya, yaitu tahap fasilitasi untuk mengetahui dan memahami apa yang menjadi prioritas kebutuhan mereka dalam pembangunan diri mereka sendiri dan lingkungannya. Ketika masyarakat telah dapat menemukan prioritas kebutuhan lalu mengaitkan dengan potensi dan kendala yang ada, maka mereka memerlukan fasilitasi dalam mencari strategi pemenuhan kebutuhan tersebut. Dalam upaya mencari dan menyusun strategi pemenuhan kebutuhan, masyarakat hendaknya berpartisipasi secara aktif, dan dibangkitkan kembali semangat kebersamaan mereka, agar muncul inisiatif-inisiatif positif untuk melakukan swadaya dalam merealisasi langkah-langkah strategi pemenuhan yang dimaksud. Inisiatif swadaya di masyarakat adalah hal yang mampu meringankan beban bersama, serta mempertebal rasa persatuan di antara mereka.

Jika strategi pemenuhan kebutuhan telah teridentifikasi baik pada tataran realisasi hingga pemeliharaan atau pelestarian, maka masyarakat mulai melangkah pada tahap realisasi pemenuhan kebutuhan. Dalam upaya ini fasilitator tidak hanya dituntut memfasilitasi dan mendampingi, namun juga dituntut untuk mampu mengadvokasi, atau memediasi masyarakat dengan pihak lain (kadang dengan para pengelola negara terkait) yang pemikiran, keahlian, dan tenaganya dibutuhkan masyarakat.

Bilamana tahap realisasi pemenuhan telah tercapai, kebutuhan telah terpenuhi, maka perlu disepakati langkah rinci untuk pemeliharaan, pelestarian, dan bahkan strategi berikutnya untuk pengembangan. Dalam tahap ini, kembali seorang pendamping ataupun fasilitator perlu memiliki keahlian advokasi dan mediasi yang handal.

Hasil pembangunan dari dan untuk masyarakat ini haruslah dipotret dengan baik oleh para pengelola negara dan diinventarisir, serta dibantu dalam upaya pemeliharaan, pelestarian, dan pengembangannya. Peran pengelola negara dapat dilakukan dalam beragam bentuk, antara lain melakukan penguatan kapasitas fasilitator masyarakat, menyediakan tenaga ahli yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan yang terpenting memperhatikan aspirasi masyarakat dengan menyusun rencana pembangunan yang memperhatikan kebutuhan masyarakat, serta mengalokasikan dana negara untuk mendukung realisasi pemenuhan kebutuhan masyarakat tersebut.

Masyarakat yang sudah cenderung maju dan mampu berkreasi dengan baik memerlukan fasilitator yang memiliki kepekaan dan kapasitas khusus guna makin memajukan dan mengembangkan kreativitas masyarakat tersebut. Fasilitator ini harus memiliki visi ke depan, kreatif, dan menguasai substansi yang sedang dikerjakan oleh masyarakat dengan baik, minimal menguasai konstelasi pengembangan kegiatan masyarakat tersebut, sehingga fasilitator ini mampu memediasi dan mengadvokasi masyarakat dengan pihak-pihak ahli terkait seperti dalam hal pemasaran produk, dan lain-lain. Ini juga termasuk antara masyarakat dengan pengelola negara, misalnya dalam hal regulasi, atau bahkan dalam upaya mematenkan hasil karya masyarakat tersebut, sebagai bentuk penghargaan terhadap karya otentik mereka.

Jika kita amati bersama, terlihat bahwa pembangunan masyarakat di Indonesia membutuhkan pendamping atau fasilitator masyarakat. Tugas mereka membantu pengelola negara ini dalam membangun jiwa dan raga masyarakat, yang realisasinya dapat beragam untuk dapat bersama-sama mencapai cita-cita negara.

Memfasilitasi masyarakat bukan pekerjaan yang statis. Fasilitasi masyarakat membutuhkan beragam keahlian dari beragam disiplin ilmu, sesuai tahapan fasilitasi, prioritas kebutuhan masyarakat, dan sesuai juga dengan perkembangan pemikiran dan kapasitas masyarakat itu sendiri.

Fasilitator masyarakat adalah salah satu profesi yang dibutuhkan di Indonesia. Banyak hal yang dapat diambil manfaatnya oleh negara ini jika dalam membangun bangsanya melibatkan fasilitator. Pertama adalah pembangunan tersebut dapat lebih merata, karena secara geografis Indonesia sangatlah beragam, dari perkotaan yang metropolis hingga perdesaan yang terpencil. Dengan adanya fasilitator yang terlatih untuk mampu beradaptasi sesuai lokasi sasaran, maka daerah terpencil pun dapat tertangani dengan baik. Kedua, masyarakat yang heterogen ini dapat terjaga kesatuan pemahamannya tentang cita-cita membangun bangsa dan negara, sehingga walaupun mereka berasal dari beragam suku dengan beragam tingkat intelektualitas, serta beragam pemikiran, namun ketika berperan dalam pembangunan mereka akan menuju cita-cita yang sama. Ketiga, dengan jumlah penduduk yang kian bertambah, dan jumlah tenaga kerja makin meningkat pula, termasuk jumlah tenaga kerja yang berpendidikan, maka peluang profesi fasilitator ini akan mampu menyerap banyak tenaga kerja dan mengurangi jumlah pengangguran, serta arus urbanisasi. Dengan meratanya pembangunan hingga ke pelosok desa, maka lapangan kerja bukan hanya di kota-kota besar, namun juga di seluruh pelosok.

Sudah saatnya pengelola negara ini melihat pemerataan pembangunan sebagai suatu keharusan, dan menjadi agenda yang terukur secara kuantitatif, serta menjadikan fasilitator masyarakat sebagai ujung tombak dalam membangun jiwa dan raga bangsa ini.



Diposting oleh Rinawati di 02.20 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Jumat, 18 Maret 2011

Blogku berubah menjadi Trotoar....


Hidup senantiasa bergulir cepat...seiring waktu yang terus berjalan, tanpa ada satu orang pun atau bahkan satu malaikat pun yang menghentikan. Seiring waktu pikiran manusia pun terus berubah, juga pikiranku, yang selalu mendambakan segala sesuatunya menjadi semakin baik. Baik untuk diriku, diri orang lain, diri mahluk lain, agar semua merasa aman dan tidak saling menganggu, maka "Rina's Diary" berubah menjadi "Trotoar".

Sebagai area berkumpul, dan berjalan maju tanpa saling menganggu & tidak terganggu (terutama kena serempet kendaraan yang lajunya lebih kencang). Bahkan kita akan bisa mengamati beragam hal tanpa merusak ruang privat orang lain. Dari trotoarlah kita mampu menghentikan bus yang akan mengantar kita ke lokasi tujuan kita selanjutnya, mengamati sekitar kita dengan lebih leluasa, menanyakan alamat yang kita tuju kepada orang lain tanpa harus menghentikan kendaraan yang lewat, menjual dagangan, ngamen jika ada yang berminat mendengarkan, dan seterusnya....
Trotoar sebagai ruang publik untuk kita lalui bersama.

Semakin tinggi peradaban bangsa di suatu negara, semakin banyak dan luas trotoar yang akan dibangun di sana...dan fungsinya utamanya adalah untuk pejalan kaki yang terus bergerak melangkah maju, bukan untuk parkir, bukan untuk nongkrong, bukan untuk area dagang hingga pejalan kaki tak bisa lewat. Bisa siy...untuk dagang, tapi sifatnya sementara dan tidak menganggu orang yang lewat. Jadi jangan berdagang di trotoar yang sempit...bisa-bisa jalan kaki juga kena macet.... Mari kita menyusuri "Trotoar" yang indah ini................

Diposting oleh Rinawati di 19.17 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 13 Maret 2011

Impact Video - Rural Women Take Action, Bring Change

Diposting oleh Rinawati di 10.08 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Rabu, 02 Maret 2011

KEMISKINAN DAN KEGAGALAN


Apa kabar semua.....??? Semoga semua baik-baik saja...sehat...karena di negara ini sekarang kita itu tidak boleh sakit. Tau ngga kenapa ?? ya ... benar, karena kalau sakit apalagi kalau harus ke dokter biayanya mahal...belum lagio obatnya lebih mahal lagi. Nah, jadi kalau kita ketemuan atau bertegur sapa di dunia maya pun kita wajib untuk saling mendoakan supaya kita sehat.

Tau khan kalau sekarang ini tidak hanya semua serba mahal, tapi juga sudah pakai bonus, yaitu.. bonus "makan hati" yah..benar, bonus makan hatinya masing-masing alias sakit hati !!
Jadi berhati-hatilah dalam mengarungi hidup sekarang ini, karena selain banyak yang bikin kita kesal dan sakit hati alias makan hati, juga bahkan jebakan masuk neraka. Udah pernah tahu khan bagaimana label janji surga pada suatu kegiatan ibadah, namun jika kita jalani maka kita akan beresiko tinggi masuk neraka ?? Salahsatunya yang sudah jelas-jelas banyak yang terjebak di negara ini adalah Naik Haji dengan biaya dana hasil korupsi. Ih...mengerikan...alih-alih dapat pahala, eh... malah neraka sudah siap menunggu ketika ajal tiba, amit-amit....jangan sampe... lupa diri seperti itu.

Bicara mengenai semua yang serba mahal, bicara mengenai KEMISKINAN. Rasanya kita sudah sangat sering dengar. Apa sih, sebetulnya Kemiskinan itu ???...... apakah betul yang dinamakan miskin itu adalah selalu tidak punya uang ????

Rasanya kita patut mencari logika dan pemahaman utuh tentang kemiskinan, karena jangan sampai negara ini lagi-lagi jadi bulan-bulanan pihak lain yang ingin mengambil keuntungan dengan mengatakan bahwa rakyat negara ini sangat banyak yang miskin dan perlu dibantu. Lalu ketika semua pengambil kebijakan di negara ini punya pemikiran bahwa kemiskinan itu harus ditanggulangi dan dihapuskan dengan memberikan sebanyak-banyaknya materi, baik bantuan dana atau sarana prasarana sesuai kebutuhan masyarakat, maka di situlah kesempatan pihak ketiga tersebut menguyur negara ini dengan bertrilyunan lebih dana yang dikatakan bantuan, padahal dana jeratan alias dana utang.

Sang pengambil kebijakan merasa bahwa tindakannya dengan mengakses sangat banyak utang adalah tepat, maka di sisi lain sebenarnya kemiskinan tersebut sedang berjalan untuk semakin sempurna. Ya... rakyat ini tidak hanya miskin secara materi, namun juga menjadi miskin kreatifitas, miskin motivasi, hingga miskin percaya diri. Mereka menjadi merasa tak akan mampu bangkit membangun sarana prasarana, merealisasikan beragam jenis kebutuhan, melakukan pertemuan untuk mengagas masa depan mereka sendiri, tanpa bantuan upah harian atau biaya transport ke tempat pertemuan.

Sungguh bangsa ini sangat tak pernah mensyukuri apa yang ada di negara yang subur dan siap untuk diolah ini, justru menjadi sangat...sangat.... malas untuk hanya sekedar mencangkul tanah mereka sendiri. Oh...betapa manjanya manusia di negara ini. Apakah pernah orang malas itu berhasil ???... Tentunya bangsa yang terdiri dari orang-orang malas itu akan gagal, dan lalu akan disebut NEGARA GAGAL.....
Diposting oleh Rinawati di 06.56 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 01 Januari 2009

MUNAJAT DAN IKHTIAR UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK


Suara terompet saling bersahutan, ditingkahi letupan kembang api berjejalan di langit Jakarta, menandai pergantian tahun 2008 menjadi 2009, di tepat pukul 00 WIB. Ibukota Indonesia mendadak riuh sejenak, lalu kemudian perlahan kembali senyap. Kota menjadi tertidur hingga lewat waktu subuh, karena menjelang subuh penduduknya baru saja berangkat ke peraduan. Demikian juga kiranya suasana pada banyak tempat di seluruh penjuru bumi.

Sukacita pergantian tahun, perhitungan yang kembali dimulai dari bulan satu, tanggal satu, jam satu, menit pertama, detik pertama, yang akan kembali berulang terus hingga beralih generasi dengan ritual yang berbeda. Namun apakah pergantian tahun hanya cukup dirayakan dengan kembang api, aneka makanan ala barbeque ? Apakah cukup hanya dengan ucapan tahun baru, dan sejumput doa keselamatan dan kemurahan perlindungan serta rejeki kepada Tuhan untuk masa depan ? Apakah kita perlu menoleh sedikit ke belakang , sebelum kita kembali mulai melangkah maju ke depan. Sejarah telah tertoreh hingga angka 2008 berakhir, namun kita perlu melihatnya kembali, membuka album untuk berkaca dan berinstrospeksi, agar kita sadari dan pahami untuk apa sebenarnya hidup kita ini, dan bagaimana kita sebaiknya melangkah untuk mencapai tujuan.

Bicara tentang pergantianwaktu, maka kita terhubung dengan regenerasi, karena tidak ada makhluk satupun makhluk di bumi iniyang mampu menunggui bumi sepanjang umur bumi, semua pasti mati dan menyerahkan tongkat estafet ke generasi berikutnya. Bumi diserahkan Tuhan kepada semua makhluk Nya yang hidup di bumi untuk dikelola dan dinikmati bersama. Tuhan memberikan kekuatan berbudi dan berakal kepada manusia melebihi makhluk Nya yang lain. Itu artinya manusia dipercaya Tuhan sebagai leader diantara semua makhluk Nya di bumi ini untuk pengelolaan bersama. Dan kekuatan hidup lain yang dapat menandingi manusia, namun tak tampak mampu bicara secara verbal, serta mendengar dengan daun telinga, adalah ALAM. Ya...alam diciptakan Tuhan sebagai media hidup, sumber pemenuhan kebutuhan semua makhluk ciptaan Nya. Alam diciptakan untuk mampu memberi, tanpa mampu menolak untuk memberi dan menerima berbagai perlakuan manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Saat ini, ketika alam sebagai ruang hidup, semua permukaan tanah ditutup dan diberi perkerasan, hingga tak pernah lagi bersentuhan langsung dengan air hujan. Seolah alam memang tidak pernah protes. Tidak akan alam menolak, lalu serta merta melontarkan kembali aspal-aspal panas ke wajah para pekerja yang mengaspal tanah tersebut. Tanah tetap diam, walau kemudian setelah tak pernah bersentuhan dengan air hujan pun, tanah juga ditindih berton-ton beban kendaraan mulai dari motor hingga kontainer yang luar biasa beratnya selama berjam-jam. Hanya ketika manusia sudah hampir semuanya tertidur, tanah sedikit bisa merasa ringan, karena tidak ada lagi kemacetan ataupun kendaraan hilir mudik yang melindasnya. Padahal jika tanah dibiarkan bersentuhan langsung dengan air hujan, maka kita pun dapat merasakan, bahwa tanah juga mampu berinteraksi. Perubahan kimia yang terjadi jika tanah bertemu dengan air hujan. "Hm... bau tanah nih, enak, segar, barusan hujan ya, disini ?" komentar yang sering kita dengar. Segar yang kita rasakan merupakan ion positif yang muncul karena tanah bahagia bertemu dengan air hujan. Ibarat kita mencuci muka, atau mandi, maka tanah pun sebenarnya ingin selalu tersentuh air secara periodik dan apa adanya (natural). Bayangkan jika tanah justru bersentuhan dengan aspal panas sepanjang hari, atau ditumpangi keramik masif untuk selamanya. Mungkin saja tanah menangis, dan kita tak pernah tahu karena juga tidak pernah mendengar.


Kegundahan alam seperti ini yang tidak pernah manusia rasakan dan pahami, hingga menganggap semua bukan masalah. Semua mungkin juga karena alam tidak pernah mengomel, membentak, bahkan meludahi manusia, meskipun diperlakukan tnapa perasaan, bahkan dieksplorasi habis-habisan. Alam tetaplah alam yang dikodratkan untuk melayani kebutuhan, dan nafsu makhluk hidup ciptaan Tuhan, terutama manusia.

Dengan umur bumi yang melebihi 2008 tahun, merupakan umur yang sangat-sangat tua. Itu berarti kita sebagai manusia hendaknya menoleh ke belakang, apakah kita sudah bersikap cukup arif dalam berbagi kehidupan dengan makhluk Tuhan yang lain, beserta alam yang selama ini telah menyediakan sumberdaya dan ruang untuk tempat hidup di bumi ini ?

Kembali lagi kepada alam, maka jika kita menoleh ke belakang, kita telah berkali-kali melihat bencana alam. Bencana untuk manusia dan makhluk Tuhan lainnya, karena kemarahan alam. Hal sebenarnya adalah akibat dari ulah manusia sendiri, yang telah sekian ratus tahun tak pernah memahami pentingnya mengelola bumi ini, dengan budi dan akal, artinya tidak tidak hanya sekedar logika keuntungan semata, namun juga perasaan terhadap sesama manusia, makhluk hidup lainnya serta alam itu sendiri.

Manusia hendaknya menyadari bahwa kecanggihan otaknya mampu menjadikan bumi makin indah, namun juga sebaliknya mampu menjadikan bumi makin hancur. Sikap konstruktif dan destruktif manusia memang sangat tinggi. Hal ini adalah dampak adanya kemampuan budi dan akal yang besar. Yang jika tidak diaktifkan secara seimbang, maka akan sangat berbahaya. Jika yang muncul dominan adalah budi tanpa akal, maka manusia akan kurang memiliki kekuatan dalam pemenuhan kebutuhannya secara nyata. Tetapi jika yang muncul sangat dominan adalah akal tanpa budi, maka manusia akan menjadi makhluk destroyer paling kejam di muka bumi.Seperti kita lihat sekarang kondisi di Gaza, Timur Tengah. Dimana pemimpin dan pasukan Israel menjadi destroyer paling berbahaya di muka bumi. Di sana sesama manusia dan makhluk hidup diperpendek umurnya, dan yang tetap hidup disiksa hidupnya, sementara alam dibumihanguskan, semua "hitam kelam" dan hancur diselimuti berlapis-lapis sakit dan tangisan.

Dengan adanya kombinasi yang seimbang antara budi dan akal, maka manusia akan seimbang mempergunakan akal dan perasaannya. Keseimbangan ini mampu menenangkan hidupnya, hingga manusia mampu berpikir jernih, ingat akan kekuatan Sang Khalik yang mengatur hidupnya, melebihi kemampuan dirinya sendiri. Sang Khalik lah yang tahu berapa daya masing-masing manusia, dan tahu pada titik waktu mana daya tersebut akan benar-benar habis, hingga untuk menghirup oksigen pun manusia itu sudah tak mungkin mampu. Walaupun manusia punya kekuatan, tapi masih dalam kendali Tuhan. Dia lah yang memberikan battery daya di setiap tubuh makhluk hidupnya, agar makhluk tersebut mampu hidup di bumi. Namun tidak ada battery tanpa batas daya, oleh karena itu kita sadari bersama bahwa Tuhan Maha Kuasa atas semua kehidupan di alam semesta, hingga semesta lainnya.

Kembali jika kita menengok ke belakang, pentinglah kita sadari bahwa alam merupakan ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk melayani makhluk hidup dengan memberi daya dan ruang, serta memiliki kesabaran yang luar biasa dalam melayani semua nakhluk hidup di bumi, terutama melayani manusia. Namun kita harus pula menyadari bahwa tidak ada kesabaran yang tanpa batas. Semua yang "ter..." adalah milik Tuhan sebagai Sang Pencipta. Sehingga alam juga pasti punya batas sabar. Kemarahan alam tidak pernah tanpa sebab, karena alam sangatlah sabar. Tapi kesabaran alam yang diterjang batasnya akan menimbulkan akibat yang sangat luar biasa bagi kehidupan semua makhluk Tuhan, terutama manusia. Kemarahan adalah suatu upaya untuk tidak lagi melayani dalam bentuk apapun, atau bahakan sebaliknya, yaitu menjadi menhina atau menyakiti sesuatu yang selama ini selalu dilayani dan disuguhi kenikmatan. Demikian juga alam, yang akan menerjang manusia dengan cara apapun, dan sangat menyakitkan, sikap alam yang sabar melayani hidup manusia menajadi berubah seratus delapan puluh derajat.

Andai alam dapat marah seketika, maka para perusaka akan segera menghentikan aksinya. Namun karena alam sangat sabar, bisa jadi kemarahannya justru akan menimpa orang-orang yang kita sayangi yang masih hidup di bumi, di kala kita yang selama ini merusak alam, sudah pergi meninggalkan kehidupan di bumi. Bayangkan kalau kita melihat orang-orang yang kita sayangi dilanda kemarahan alam, tanpa kita sanggup berbuat apapun untuk menolong mereka. Padahal seharusnya yang menerima kemarahan alam adalah kita, yang telah memulai untuk menindasnya. Akan menanggiskah kita meraung-raung di sana ? Apakah tangisan tersebut mampu mengubah keadaan di bumi ? Apakah alam akan mendengar kita menangis, lalu berhenti marah ? Hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti anak cucu kita hanya meneruskan apa yang sudah kita lakukan selama ini. Kita yang tidak pernah mengajari mereka untuk menghargai, apalagi mensejahterakan sesama manusia, makhluk lain dan alam. Di dalam pikiran anak cucu kita, tanah harus diaspal supaya manusia seagai pengguna jalan dapat berjalan lebih nyaman. Mereka tidak salah, karena mereka belajar hidup dari kita, yang terlahir lebih dahulu di bumi. Sejatinya, kasih sayang antar manusia yang tulus adalah segala daya upaya, untuk menjadikan orang yang dikasihi dapat hidup sejahtera, mandiri dan menjadi mahkluk Tuhan yang mulia. Ini semua kewajiban kita sebagai orang yang lebih dulu terlahir, kepada para penerus di sekeliling kita.


Kesadaran akan memahami alam dan kehidupan makhluk hidup lainnya, sangat penting kita tularkan kepada generasi yang akan datang. Hidup baik tidak ada yang tanpa aturan. Semua memiliki aturan tertulis dan tidak tertulis. Semua yang mengarah kepada keseimbangan adalah upaya menepis maunya sendiri-sendiri, semua harus tahu diri dan tidak ada yang egois, mau menang sendiri.

Tuhan menuntun manusia berbuat kebajikan melalui banyak agama dan keyakinan. Hidup di bumi adalah pengabdian manusia kepada Tuhan untuk memelihara seluruh ciptaan Nya di bumi. Pengabdian akan berhasil baik, jika manusia mampu mensejahterakan sesamanya, makhluk lainnya serta alam di sekitarnya. Hingga Tuhan akan tersenyum dan senantiasa memberikan kasih sayang yang luar biasa kepada umat Nya. Mari sobat, kita melangkah di hitungang baru ini dengan berbuat baik, menularkan kebajikan hidup kepada penerus kita. Janganlah menjadi umt yang tak pernah menerima senyum Tuhan, karena kita tak akan pernah mendengar bunyi alarm, jika daya battery kita masing-masing sudah menipis. Tanpa kita sadari, tiba-tiba daya battery kita masing-masing sudah benar-benar habis, tanpa kita sempat berpamitan dan berpesan satu huruf pun kepada generasi penerus kita. Janganlah kita pernah menjadi orang yang merugi di detik akhir kehidupan kita. Mari kita memulai menjadi umat Tuhan yang bermartabat, tidak egois dan mampu menjadikan bumi ini tetap aman, layak dan nyaman sebagai ruang hidup dan ruang bersanding semua makhluk Tuhan, khususnya sebagai tempat manusia berkarya dan mengukir sejarah masa hidupnya.

Jakarta, 1 Januari 2009 Ketika harapan harmonisasi kehidupan mulai dirajut dengan warna yang lebih cerah dan bermakna

Diposting oleh Rinawati di 06.54 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Senin, 10 November 2008

BAHAYA LATEN MENGIKIS BUDAYA TIMUR

Dua hari yang lalu, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan 10 November. Tapi apakah sudah bangsa ini memahami arti menghormati pahlawan, atau meneladani sikap para pahlawan ? Saya ingin mengajak berbagi melalui tulisan saya yang telah saya tulis di bulan Agustus 2008. Ada 2 hal yang akan saya bagi dengan para sobat, yaitu makna pahlawan yang berakar dari ketulusannya berbuat untuk orang lain dan bangsanya, dan yang kedua adalah penyadaran bahwa bangsa ini belumlah merdeka, ada hal yang harus kita merdekakan, yang hakiki dan dapat kita lakukan adalah paradigma pikir kita sendiri, sebagai anak bangsa yang tidak hanya mengekor arus dunia, hingga lupa pada Tuhan yang selama ini menjadi sandaran kita, apalagi terlena hingga akhirnya kita hanya mampu menjadi bangsa kuli dan Tuhan akan menjadi jauh dan tak berkenan untuk mengangkat derajat kita, karena kita menjadi bebal dan tak hormat serta tak percaya pada - Nya.




Tayangan acara Untuk Ibu Indonesia di TVRI, pada tanggal 17 Agutus 2008, yang disiarkan pada pukul 8।00 WIB, dan dipandu oleh Hj। Neno Warisman, membuat siapapun yang melihat akan terharu, bahkan mungkin menitikkan airmata seperti saya. Jika ada yang terlewat dan belum melihat acara tersebut, maka akan saya ceritakan sedikit. Talk show tersebut mengisahkan tentang keikhlasan seorang dokter yang hidup di era perjuangan hingga ORDE BARU, yang sangat setia mengobati orang – orang yang terpinggirkan, seperti gelandangan, pengemis, copet, dan sebagainya tanpa minta balas jasa atau ongkos periksa di Yogyakarta. Dokter tersebut bernama dr. Sampoerno. Setiap malam Beliau keluar rumah untuk mengobati orang-orang terpinggir tersebut di jalanan, stasiun, emper toko, di mana saja sepanjang dia temui, maka pasti akan diperiksa dan diobati. Dokter ini hidup dengan penuh kesederhanaan, dimana pada waktu itu uang pensiun Beliau sebesar Rp. 22,- tidak semuanya diberikan kepada Istri Beliau, hanya Rp. 10,- untuk uang makan di rumah, Rp. 1,- untuk membeli rokok dan Rp. 10,- untuk membeli obat-obatan bagi para gelandang, sebagaimana dituturkan oleh Mbak Eyang, yaitu istri Beliau sendiri pada acara talk show tersebut. Luar biasa, mana ada dokter seperti itu di jaman sekarang ? Putra beliau yang telah menjadi ahli Biologi dan sempat mengenyam pendidikan di Hawaii Amerika Serikat, juga menuturkan bahwa ayahandanya tidak meninggalkan harta sepeserpun sewaktu meninggal. Eyang Mbak juga menuturkan bahwa dr. Sampoerno pernah ditawari teman-temannya untuk berkonspirasi melakukan tindakan korupsi, namun sebagai istri Eyang Mbak justru memcegah dengan mengatakan ”lebih baik saya diberi makan batu daripada makan duit hasil korupsi”. Hingga akhirnya Beliau disingkirkan dalam pergaulan teman-temannya tersebut dan mengalami pensiun dipercepat. Beliau tidak meninggalkan apa-apa dalam bentuk materi, namun semangat dan sikap tulus ikhlas demi sesama dan demi kesejahteraan rakyat Indonesia yang menjiwai setiap langkahnya patut kita teladani bersama. Betapa dr. Sampoerno sangat mencintai Bangsa dan Negara ini, dengan selalu berkomitmen untuk menolong sesama di bumi pertiwi ini, mewujudkan secara nyata cita-cita NKRI untuk memelihara orang miskin dan anak terlantar, walau dalam hanya dalam lingkup kesehatan fisik. Beliau juga tak pernah lupa membawa Sang Saka Merah Putih di dalam tasnya, agar semangat nasionalisme tetap membara. Bendera yang sudah kusam itu sekarang masih tersimpan rapi oleh Mbak Eyang, dan keluarga besar dr. Sampoerno menyebutnya Bendera Pusaka, sebagai kenangan untuk menghadirkan kembali Sosok Tauladan dr. Sampoerno di tengah-tengah mereka. Hingga putra bungsu, sang ahli biologi tersebut mengatakan pula bahwa Ayahandanya tidak pernah meninggal, Beliau tetap ada mengiringi langkahnya. Yang lebih mengharukan lagi adalah ketika sang dokter meninggal di Jakarta tahun 1976, maka yang datang melayat dari Yogya dengan menyewa 2 gerbong kereta api ialah para gelandangan, copet, pengemis dan anak jalanan, yang merasa sangat kehilangan.

Beberapa tanggapan muncul seketika melalui acara talk show. Salahsatunya adalah pendapat dari seorang dokter yang baru saja kembali dari Nanggroe Aceh Darussalam. Dokter tersebut mengatakan bahwa dr. Sampoerno dapat menjadi sangat mencintai rakyat negeri ini, karena Beliau telah secara nyata berkorban untuk rakyat negeri ini. Intinya filosofi ”Tiada cinta tanpa pengorbanan” ternyata memang benar.

Dari kisah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Beliau adalah tokoh teladan, pahlawan tanpa tanda jasa. Dan kita menilai demikian berdasarkan kacamata orang timur. Baik, bijak menurut orang timur adalah tidak gila harta, mampu berbuat banyak untuk sesama, dan selalu dalam koridor berbuat kebajikan, selalu melakukan hal yang diridhoi oleh Tuhan, dan tidak melakukan hal yang diharamkan.

Bila kita melihat sejarah, kita dapat secara utuh melihat perjalanan hidup para tokoh teladan, dari mulai Nabi Muhammad sampai Gandhi hingga dr. Sampoerno, yang telah berhasil menghadapi tantangan kemewahan duniawi. Mereka sangat luar biasa, mampu tetap berkomitmen di jalan yang benar hingga akhir hayat mereka.

Manusia yang baik atau singkatnya kita sebut tokoh teladan dari kacamata budaya timur, senantiasa dihadapkan pada tantangan jaman, kegilaan materi dan nafsu dunia yang semakin menggila sesuai trend jamannya. Tantangan negatif yang terbungkus kemewahan tersebut, harus dapat dilawan, dengan komitmen untuk tetap berbuat baik, serta berada di jalan yang diridhoi Tuhan. Karena pada dasarnya ketakutan akan azab Tuhan, adalah melebihi ketakutan akan apapun di dunia ini. Diyakini oleh budaya timur, bahwa yang langgeng di dunia adalah perubahan. Sementara kewenangan tertinggi, Yang mampu menciptakan perubahan dalam bentuk apapun adalah berada di tangan Tuhan. Keyakinan ini selain dianut oleh orang timur, juga telah berlaku secara universal melalui berbagai agama dan keyakinan di dunia. Namun seiring jaman keyakinan akan kekuatan Tuhan juga terkikis oleh kekuatan buatan manusia yang semu, namun sangat memikat.

Jika kita bicara kekuatan buatan manusia, maka mungkin akan sangat banyak. Namun kita batasi pada sebuah lembaga internasional, yang dikatakan sebagai lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau dengan bahasa Inggris biasa disebut United Nation (UN) berpusat di Amerika Serikat, dan mayoritas gerak langkahnya juga didominasi negara adi kuasa tersebut. Mungkin banyak orang yang masih sangat menghormati lembaga dunia ini, namun saya pribadi justru mempertanyakan ”mau kemana PBB membawa dunia ini ?”

Pertanyaan ini muncul ketika saya membaca artikel tentang duta PBB. Banyak lembaga sub dari PBB, antara lain UNICEF, UNHCR, WHO, dll dan semuanya memiliki duta masing-masing. Umumnya para duta tersebut adalah artis papan atas Hollywood. Alasannya karena mereka cukup populer dan punya kepedulian sosial.

Saya akan mengangkat salahsatu duta UNHCR sebagai contoh, yaitu Angelina Jolie. Siapa yang tidak kenal tokoh dalam Tomb Raider ini ? Cantik, sexy, memikat luar biasa. Sejak 2005 telah menjadi duta UNHCR dan dinilai peduli sosial karena telah mengadopsi anak-anak telantar dan juga aktif mengirimkan surat berisi kritik sosial kepada Presiden USA, diantaranya kepada George Bush. Namun apakah pihak PBB tidak pernah menilai dari aspek yang lain ? Yaitu bagaimana Jolie menjadi terkenal dan kaya raya ? Jika dirunut kenyataannya dia bisa tenar karena cukup berani menerima tawaran adegan apapun, termasuk adegan bugil, adegan ranjang kapanpun dimanapun. Semua foto vulgarnya sangat mudah diakses via internet. Luar biasa... itukah duta PBB, yang hidup seperti bunglon. Ketika berhadapan dengan pengungsi dia akan menjadi seperti malaikat, namun ketika pengambilan gambar film atau foto bugil dia mampu liar mengikuti nafsu setan, dan dalam hidup keseharian ia mampu bertahan sekian tahun melakukan hubungan sesama jenis dan kumpul kebo hingga 3 orang anaknya menjadi anak terlahir di luar nikah. Lalu nilai apa yang akan ditanamkan oleh lembaga internasional yang agung tersebut ? Apakah orang dengan bergelimang harta, dan tampilan aduhai yang menjadi tokoh di dunia ini, tanpa melihat nilai budi, dan adab yang dilakoni dalam hidupnya ?

Rasakan bedanya antara menyimak kisah keseharian dr. Sampoerno dengan keseharian Angelina Jolie. Nampaknya PBB telah kehilangan nilai, atau memang nilai yang berdasarkan pada keyakinan materi yang akan ditawarkan dan disebarluaskan di seluruh dunia. Jika benar ada unsur kesengajaan PBB untuk mengikis nilai, budaya dan adat timur demi menjadikan negara timur sebagai arena pasar serta arena bermain mereka, hingga timur tidak memiliki apa-apa dan semakin mudah untuk dijadikan kuli-kuli mereka, sebab benteng pertahanan terakhir rakyat di belahan timur dunia adalah nilai luhur budayanya, maka sungguh sangat tabu jika kita masih mengagungkan lembaga tersebut, dan mempercayainya sebagai yang berdaulat guna mewakili, mewujudkan keutuhan dan kedamaian dunia, lantas damai dan utuh macam apa, jika lebih takut miskin daripada takut kepada Tuhan. Apakah keutuhan dan kedamaian dunia dapat diwujudkan dengan uang, atau bukankah justru sebaliknya umumnya hancur karena pertikaian yang berujung pada materi.

Indonesia sebagai negara yang pernah punya Pemimpin, yang memprakasai Gerakan Non Blok, tentunya harus bersyukur dan melanjutkan semangat dan cita-cita Non Blok, yaitu tidak nurut saja dengan PBB, negara adikuasa atau blok manapun. Sebagai yang punya budaya luhur kita harus berani dan yakin untuk tetap eksis dengan pendirian dan keyakinan kita sendiri, yaitu yakin akan Kuasa Tuhan melebihi sekedar kuasa materi.

Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan dan juga memberi manfaat untuk kita bersama, di saat negeri ini tengah ramai dengan calon legislatif yang berbalut kemewahan selebriti. Hidup adalah sederhana, yaitu arena kebajikan melawan kebatilan, hanya diri kita yang menentukan akan berpihak ke mana ?

Rinawati
Jakarta, 22 Agustus 2008 ketika Jakarta riuh dengan Caleg 2009




Demikian sobat, semoga menjadi renungan dan pemahaman kita bersama. Langkah kedua yang dapat kita lakukan untuk merdeka, setelah membebaskan paradigma pikir kita sendiri, adalah dengan menularkan paradigma pikir positif kita kepada orang lain, agar dapat bersama-sama memerdekakan bangsa dan negara ini . Tapi kembali lagi, karena perjuangan berpangkal pada ketulusan, dan dibuktikan oleh sejarah bahwa sahabat para nabi tidaklah banyak, maka ini semua terserah pada diri masing-masing apakah menjadi bagian yang sedikit atau ikut saja dengan yang banyak.

Rinawati
Jakarta 12 November 2008, saat ketulusan hanya sebuah lelucon.
Diposting oleh Rinawati di 17.05 1 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 06 November 2008

KEJENAKAAN PEMEKARAN DAN PILKADA KABUPATEN, SEBUAH DRAMA AMBISI TANPA AMUNISI

Kunjungan seminggu yang lalu di kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur menjadikan saya dan Bu Soenoe (seorang konsultan, sahabat saya) terheran-
heran. Pertama kami
baru tahu bahwa Kabupaten Manggarai telah mengalami pemekaran pada bulan Agustus 2008, dan menjadi Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Nampaknya gaung pemekaran tersebut tak sampai hingga ke tim PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Generasi tingkat nasional. Dampaknya tentu saja beberapa pendanaan dan pembinaan dari Pemerintah Pusat menjadi tertunda. Hal ini memperlihatkan bahwa koordinasi antara Tim Pusat dan Daerah memang kurang berjalan baik. Tapi tak apalah, tak ada yang bersalah, yang penting pada akhirnya semua terkoordinasi dengan baik.



gbr kiri : pak Gorys, 2 orang masyarakat setempat, bu Soenoe, saya dan 2 orang masyarakat setempat.












gbr kanan : pak Gorys, seorang masyarakat Manggarai Timur,
saya dan pak Bambang.







Yang membuat kami heran untuk kedua kalinya adalah kabupaten Manggarai Timur selaku kabupaten yang baru mekar, ternyata tidak memiliki dana yang cukup untuk operasional pemerintah daerah. Sebagaimana tertera pada Undang-undang Pemekaran yang ada, dinyatakan bahwa sumber pembiayaan kabup
aten baru, pada tahap awal berasal dari dana bantuan provinsi dan kabupaten induk. Di Manggarai Timur besarnya alokasi bantuan dari provinsi NTT untuk operasional adalah sebesar Rp. 5 milyar, sedangkan dari kabupaten Manggarai selaku kabupaten induk juga memberikan dana sebesar Rp. 3,3 milyar. Hingga akhirnya dana Rp. 8,3 milyar terkumpul sebagai bekal Manggarai Timur merintis roda pemerintahan.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan salah satu agenda yang harus dilaksanakan pada tahun pertama berputarnya roda pemerintahan. Karena tidaklah mungkin suatu kabupaten terlalu lama dipimpin oleh pejabat sementara.
Banyak partai yang menjadi sangat agresif mengusung calonnya masing-masing, dan dengan konsekuensi masing-masing. Hingga akhirnya jumlah calon mengerucut menjadi 7 orang calon Kepala Daerah. KPU menghitung anggaran yang harus disediakan daerah guna merealisasi Pilkada, yaitu sebesar Rp. 10 milyar. Hal ini dikarenakan besar kemungkinan Pilkada yang mengusung 7 orang calon, akan terjadi dalam 2 putaran.

Sesuai Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah, bahwa provinsi wajib memberikan dana bantuan untuk penyelenggaraan Pilkada kepada kabupaten hasil pemekaran. Provinsi NTT ternyata tidak melakukan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang. Kepada Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi NTT hanya meminta kabupaten tersebut untuk mempergunakan dana yang telah mereka berikan sebelumnya, guna mendukung penyelenggaraan Pilkada. Alhasil Kabupaten Manggarai Timur harus gigit jari dengan dana yang dimiliki, yaitu hanya sebesar Rp. 8,3 milyar, bahkan sebagian telah terpakai untuk operasional, tapi masih harus menyediakan Rp. 10 milyar untuk Pilkada. Berarti kabupaten ini harus utang.

Dalam bertugas para aparat kabupaten bersemboyan "Karena ini tugas maka apapun kondisinya kami laksanakan". Entah mereka berutang kemana, yang pasti Bapak Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Kesbangpol setempat mengatakan "Siapapun nanti yang akan menjadi Bupati Manggarai Timur, maka ia akan berkewajiban mengembalikan utang". Dan tentunya dapat kita hitung bersama, besar minimal utang Bupati terpilih. Lantas berapa lagi dana yang harus Bupati pinjam berikutnya untuk membayar utang yang sekarang, dan berapa juga yang dibutuhkan untuk operasional pemerintahan berikutnya, dan berikutnya lagi ? Lantas kapan kabupaten ini akan membangun, dan kemana arahnya ? Jika setiap tahun anggaran harus mencari dana segar yang berasal dari utang. Serba gelap dan tak satupun aparat di sana yang bisa memberi gambaran kelanjutannya.














Manggar
ai Timur yang luar biasa indah pemandangannya,dan subur tanahnya, namun rakyatnya sangat merana karena masih banyak yang belum menikmati listrik, miskin, minim informasi, transportasi juga masih langka, akses sangat jauh dan medannya pun sangat sulit. Dampaknya SDM masyarakat juga menjadi terbatas. SDM yang lemah tentu dapat menjadi santapan empuk SDM yang kuat, terlebih jika mereka tinggal di alam yang sangat memanjakan. Santapan yang lezat bagi para "pemangsa rakyat". Apakah hal ini tidak juga menjadi daya tarik para pejuang pro pemekaran dan sponsorship pilkada tersebut ? Utang akan terbayar dengan uang atau peluang dan fasilitas sebagai arena bermain yang menarik.

Ini baru satu kabupaten, bagaimana kalau ini terjadi dengan banyak kabupaten di Indonesia. Apakah semua Kepala Daerah pasti punya utang ? Jika ya, berarti kepemimpinannya akan dibayangi pengembalian utang dan kepercayaan dirinya akan langsung rontok ketika berhadapan dengan pihak pemberi utang. Secara logika pasti ada pihak kaya raya yang bisa memberikan pinjaman dan sebenarnya lebih berkuasa daripada Bupati. Dan jika kepemilikan dana tersebut adalah secara privat, maka kebijakan umum di kabupaten tersebut juga akan sangat mudah ditentukan pihak kaya raya yang bermain di balik layar, dan bersifat privat. Artinya apapun pilihan rakyat, tetap akan dikendalikan oleh si kaya raya yang telah membiayai pesta pemilihan Bupati. Kekuasaan di tangan rakyat sudah tidak ada lagi. Rakyat hanya dibutuhkan suaranya, untuk legitimasi selebihnya nasib rakyat ada di tangan privat yang super kaya tadi.

Nampak jelas bahwa Pilkada menjadi arena bermain para penguasa kapital, dan demokrasi rakyat secara langsung hanya bungkus dari arena permainan tersebut. Jika demikian kita patut bertanya kemauan siapakah pemekaran kabupaten tersebut ? Rakyatkah atau siapa ? Ambisi aparat jelas untuk meng-upgrade pangkat dan jabatan tanpa menunggu proses yang lama atau antri dengan yang mau pensiun, tapi bagi rakyat apa motivasi mereka ? Apakah mereka tahu akan lebih diperhatikan, terjamin dan terurus jika wilayahnya mekar ? Kemungkinan sangat kecil rakyat akan berpikir prospektif seperti itu, umumnya yang penting bagi mereka hanya hal yang tampak dan mereka hadapi saat ini. Lalu siapa yang mendorong tingkat Pusat menyetujui pemekaran tersebut, jika asset tak ada, dana bantuan belum tentu mencukupi. Siapa yang mampu menangkap pemekaran dan pilkada yang merupakan satu "paket kejenakaan kabupaten baru" ini sebagai suatu peluang ? Tentunya orang yang pandai berhitung dan menangkap kebingungan publik sebagai peluang bagi mereka.

Permainan kapital menjadi sangat penting dan siapapun yang dapat mempermainkannya dengan lihai, maka ia akan meneguk keuntungan sebesar mungkin. Kapitalis sebagai pola pikir dan aturan sistem telah mengurita, dan melilit negara ini hingga ke sela-sela urat halusnya. Sangat luar biasa, dan walau banyak orang melakukan dengan terpaksa, namun mereka tetap menjadi bangga ketika mereka mendapat perlakuan luar biasa, atas kemampuan mereka tetap menjalaninya walau dengan terpaksa.

Akhir kata, saya salut dengan Pak Bambang dan Pak Gorys yang tangguh dan setia mendampingi masyarakat di Manggarai. Dua orang Bapak sahabat saya ini sangat luar biasa tangguh menghadapi tantangan alam dan masyarakat yang masih sangat membutuhkan penyadaran serta dampingan. Buat Bu Soenoe, janganlah bosan menjadikan kami semua sahabat dalam memberdayakan masyarakat.We do it all together.


Jakarta, 7 November 2008
Ketika Indonesia ikut bahagia dengan terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika

Diposting oleh Rinawati di 23.23 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Selasa, 24 Juni 2008

AKSI ANARKIS Sebuah Modus Perlawanan Kepada Penguasa

Sebagaimana pemberitaan http://www.detik.com/ tertanggal 24 Juni 2008, bahwa aksi yang mengatasnamakan Solidaritas Universitas Nasional pada tanggal 24 Juni 2008 berlangsung rusuh. Sebanyak kurang dari 500 mahasiswa, telah mampu mengulang aksi 100 ribu buruh pada 11 Mei 1998, yaitu mampu merobohkan pagar DPR, membakar kerucut pembatas jalan, melempari polisi dengan botol plastik bekas, serta batu, menyemprot mobil polisi dengan cat, dan membakar mobil plat merah, hingga melibatkan anak 12 tahun dalam aksi anarkis ini. Sungguh prestasi anarkis yang luar biasa, sulit dibayangkan dengan kekuatan yang hanya 0,5 % mampu melakukan hal yang sama. Apalagi mereka mengatakan bahwa aksi ini adalah aksi pendahuluan. Lalu orang awam akan dibuat berpikir, jika yang demikian baru intronya, nah kalau sudah masuk ke syair lagu akan jadi seperti apa ?

Setelah hampir 63 tahun Republik Indonesia merdeka, ternyata belum mampu menghasilkan apa-apa, dalam hal membangun jiwa rakyatnya. Mengapa demikian? Salah siapa ? Kita memang cenderung akan selalu mencari kambing hitam, padahal selayaknya kita harus melakukan refleksi bersama-sama.

Aksi yang mengatasnamakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu, apakah benar merupakan keinginan mahasiswa ? Ada baiknya kita tetap pada koridor umum, bahwa siapapun itu, aksi ini adalah aksi sebagian rakyat Indonesia yang tidak puas dengan kondisi yang ada. Kondisi yang kian menyulitkan hidup mereka ini, dipicu oleh beberapa kebijakan Penguasa.


Sebaiknya kita memillih kata Penguasa, karena tidak semua jajaran Pemerintah adalah yang berkuasa, dan sepaham dengan kebijakan yang kian menyulitkan rakyat tersebut, bahkan sebagian dari mereka juga tersudutkan. Kebijakan yang paling memicu demo di beberapa tempat di Indonesia adalah "Kenaikan Harga BBM". Dimana dengan alasan kenaikan harga minyak dunia maka Penguasa terpaksa menaikkan harga BBM di negara ini, dan demi menyelamatkan APBN, bukan menyelamatkan rakyat, maka mereka harus tega melakukan hal ini. Padahal kita tahu harga minyak dunia sekarang sudah turun lagi, bahkan Raja dari Arab Saudi menyatakan bahwa mereka telah menurunkan harga minyak, dan mengalami laba yang cukup besar, hingga mampu menyisihkan dana tersebut, serta berkomitmen melalui The World Bank untuk membantu negara-negara miskin dan berkembang. Itu artinya jika di negara tersebut terdapat sumber minyak, sudah selayaknya negara tersebut mengalami laba yang cukup besar. Walau tidak sehebat Arab Saudi dalam kepemilikan minyak bumi, namun Indonesia adalah juga negara penghasil minyak. Menurut pakar ekonomi Kwik Kian Gie, sebagaimana paparannya di http://www.koran.com/ dan berbagai media elektronik, bahwa sebenarnya negara sudah untung, dan tidak perlu menaikkan harga BBM dalam negeri.

Penguasa sudah meng-counter pernyataan Pak Kwik tersebut melalui berbagai media eletronik, namun counter tersebut masih terdengar tidak bijaksana. Terlebih pernyataan Bapak Wapres yang mengatakan bahwa "jika menentang kenaikan harga BBM, berarti membela orang kaya". Pernyataan inilah yang menyakitkan hati rakyat yang secara nyata mengalami tekanan dari kenaikan harga BBM. Bukan hanya harga minyak yang mahal, namun juga effek domino yang sangat luar biasa, dari mulai harga sayur-mayur yang melonjak, harga susu yang kian tak terjangkau, harga pupuk yang membuat pusing, hingga harga kebutuhan lain yang menjadikan mereka tambah frustasi. Terlebih lagi karena pendapatan mereka tidak mengalami kenaikan,bahkan beberapa jenis mata pencaharian pendapatannya menurun, akibat kenaikan harga BBM, sebagai contoh tukang ojek, pengemudi taksi, nelayan dan masih banyak lagi. Kesulitan hidup menjadikan mereka tertekan, walaupun Penguasa berupaya meredam melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun apalah arti sekian ratus ribu rupiah, dibandingkan dengan ketidakjelasan masa depan ? Yang ada di benak mereka adalah ketakutan akan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sangat kontradiktif dengan benak Penguasa yang lebih berisikan kestabilan, dan jenjang kekuasaan serta kelanggengan dan pengembangan usaha, yang berujung pada kelimpahan materi hingga sekian turunannya.

Rakyat adalah insan yang hidup, punya karakter yang beragam. Ada yang bersifat lembut, lebih banyak menahan dan tidak kontra secara langsung, hingga lebih memilih bersikap diam pada posisi aman. Namun ada juga yang sebaliknya, langsung melawan dan nekad dengan berbagai resikonya. Karakter yang kedua ini, yang memicu aksi-aksi di beberapa tempat, hingga sebagai pelampiasan emosi mereka cenderung bersikap anarkis. Awalnya mereka hanya teriak-teriak dengan toak, sambil membawa spanduk dan membacakan puisi, yang berisikan berbagai tuntutan dan teguran mereka kepada penguasa. Lalu karena tidak diacuhkan, dan tetap dianggap sebagai eleman yang remeh, maka emosi menjadi mudah tersulut. Jika emosi ada di garis depan, sebuah aksi menjadi sangat ngawur alias anarkis.

Selama ini rakyat tahunya yang berbaju coklat (Polisi dan PNS) adalah representatif Penguasa, padahal sejak amandemen UUD 1945 disahkan pada tahun 2002, dan sejak era SBY sebagai Presiden pertama dengan pemilihan langsung, yang diikuti dengan pemilihan langsung beberapa kepala daerah, maka yang namanya penguasa adalah penguasa dan yang namanya polisi dan PNS hanyalah aparat yang berkewajiban mengamankan dan menjaga kestabilan kondisi negara siapapun Penguasanya. Posisi Menteri sebagai elemen Penguasa yang memimpin Departemen tidak semua berasal dari unsur PNS dan Polisi. Penguasa sekarang pada mulanya adalah representatif sebuah partai politik, yang dinilai baik dan dipilih langsung olah rakyat untuk berkuasa. Jadi sebenarnya tidak ada kepastian tentang kesamaan pandangan antara Penguasa dengan aparat. Namun faktor kewajiban sebagai penjaga kestabilan negara menjadikan Polisi dan PNS cenderung tunduk pada kebijakan Penguasa. Jika rakyat cukup dewasa dalam berpolitik, maka mereka tidak akan kontra secara langsung dengan kedua elemen ini, namun justru menyadarkan Polisi dan PNS untuk bersama-sama menyadari posisi mereka yang sebenarnya, yaitu mereka adalah abdi negara, abdi rakyat, bukan abdi Penguasa yang hanya wajib cari muka di depan Penguasa, alias ABS. Walaupun tidak semua aparat yang punya mobil BS atau BP seperti itu.

Entah karena keyakinan bahwa pengguna Innova B 1019 PQ adalah juga seorang aparat yang ABS, atau hanya sekedar emosi, maka pada kerusuhan semalam mobil tersebut telah habis dibakar para demonstran. Padahal bagi orang yang tahu, ini merugikan rakyat sendiri, karena mobil tersebut adalah milik negara dan dibeli dengan uang rakyat untuk operasional pegawai di pemerintahan. Jika mau menohok pelaku atau Pejabat yang membuat kebijakan yang arogan, seharusnya yang menjadi incaran adalah mobil pejabat dengan kode nomor BS (pejabat PNS) atau BP (penjabat kepolisian), dengan plat hitam. Mobil-mobil itulah yang dibeli dengan uang pribadi mereka yang kadang memang didapatkan dengan pola ABS.

Jiwa yang tidak terbangun menjadikan pola anarkis sebagai penyelesaian akhir terhadap apapun yang dihadapi, terkait dengan upaya menentang kebijakan penguasa. Dan jiwa serta pengetahuan yang kurang utuh menjadikan sebuah pola kekerasan tersebut, sebagai modus yang harus ditularkan kepada anak usia sekolah. Diantara para pelaku demo adalah anak 12 tahun, dan diantara sekian juta rakyat Indonesia adalah usia pra sekolah, yang telah menjadi terbiasa melihat aksi baku hantam, dan bakar-membakar sebagai budaya yang ditransfer melalui berbagai media. Bagi sebagian rakyat yang pro pedemo seolah mereka menjelaskan "Begitulah cara mengemukakan pendapat yang bersebrangan dengan Penguasa", dan sebaliknya bagi para Penguasa "Begitu jugalah cara memperlakukan rakyat, yang tidak bisa menurut, diamkan saja sampai mereka lelah, dan sesekali beri mereka permainan agar reda sebentar, bisa kasus konflik agama atau tontonan olahraga", sedangkan bagi para PNS dan Polisi seolah mereka memperjelas bahwa "Kami hanya pelaksana harian, kami harus mematuhi Penguasa agar kita bisa hidup damai, walau kita tetap sulit memenuhi kebutuhan hidup, kalian mau bakar mobil kantor silakan, karena kami pribadipun tidak mengalami kerugian". Dari semua aksi anarkis ini yang sebenarnya dirugikan adalah rakyat, bukan siapa-siapa. Sebagian harta rakyat hangus, nama mahasiswa sebagai representatif rakyat rusak, dan anak-anak usia dini dan sekolah telah dikoyak jiwanya.

Saat ini kunci keberhasilan memperjuangan nasib rakyat ada pada aparat, yang sebenarnya bertugas sebagai abdi masyarakat, bukan abdi Penguasa. Sehingga jika Penguasa sudah menetapkan kebijakan yang dzolim, maka ini harus dihentikan, bukan semakin diladeni dan dilapangkan jalannya. Penghentian ini dapat dengan berbagai cara yang santun dan tidak anarkis. Tidak semua kemauan Penguasa wajib dituruti oleh aparat, dan ini dapat sukses dilakukan jika semua aparat kompak. Bukan sebagian menentang dan sebagian lagi menelikung yang lain. Jika PNS dan polisi secara nyata dapat menunjukkan bahwa mereka berada di pihak rakyat, maka tak akan ada lagi mobil dinas polisi dan plat merah jadi sasaran amuk massa, hingga anak-anak Bangsa ini tidak lagi melihat aksi anarkis yang brutal dan tak terarah. Tapi benar-benar melihat sebuah upaya memperjuangkan hak rakyat dengan nyata, dengan alasan dan arah yang jelas.

Sebuah kejelasan masa depan memang sedang dipertaruhkan, dan PNS serta Polisi menjadi elemen barrier antara Penguasa dan Rakyat. Mau berpihak kemana mereka ? Keputusan ada di tangan mereka, jika mereka tahu bahwa negara ini milik rakyat tentu mereka paham harus kemana.

Jakarta, 25 Juni 2008
Ketika arogansi Penguasa kian berkobar.

Diposting oleh Rinawati di 17.49 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Selasa, 10 Juni 2008

Gizi Buruk sebagai Realitas Wajah Negeri ini

Padamu negeri kami berjanji,
Padamu negeri kami berbakti
Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami....



Bait lagu Padamu Negeri ini, akan dapat mengingatkan kita pada kecintaan dan tanggung-jawab kita sebagai anak negeri ini. Salahsatu kewajiban kita sebagai generasi sekarang
adalah mempersiapkan generasi yang akan datang, tidak hanya dari aspek produksi alias "memproduksi anak", namun juga merawat, membimbing dan menjadikan anak tersebut menjadi siap sebagai kader penerus Bangsa, yang kelak akan juga mengemban kewajiban sebagaimana tersurat dan tersirat pada lagu Padamu Negeri tadi. Mereka akan memegang tongkat estafet kepemimpinan dan kendali negeri ini, karena terpeliharanya suatu Bangsa
dan Negara dengan baik, tergantung pada bagaimana terpeliharanya Generasi Penerus Bangsa.

Jika kita ingin mempersiapkan penerus bangsa, maka kita sendiripun harus siap dan cukup mumpuni untuk mengasuh dan membimbing mereka, bahkan mampu menjadi suri tauladan bagi mereka. Darma bakti yang nyata pada Ibu Pertiwi, bukan karena kita berhasil menjadi Professor atau Jenderal dengan beribu bintang, tapi mampu menjadikan gelar tersebut sebagai alat untuk membentuk dan menularkan hal yang positif kepada penerus Bangsa, baik anak kandung kita sendiri, saudara dekat, anak pembantu, atau anak orang lain yang kelak akan menjadi penerus Bangsa ini. Untuk apa kita menjadi orang besar atau bahkan seorang Presiden sekalipun, jika tak mampu menjadikan anak bangsa sebagai "anak yang penuh ion positif" (sehat, berbakat, cerdas, terampil, mumpuni,taqwa kepada Tuhan YME - apapun agamanya, dan berbudi luhur, serta bersemangat), atau bahkan kian meratakan korupsi hingga karakter "preman" pun dapat melekat pada anak-anak sejak usia dini. Bahkan jika kita tetap tidak memperbaiki sistem yang ada, walaupun telah banyak fakta kian meningkatnya jumlah anak dengan gizi buruk atau bahkan sudah berstatus busung lapar (kwashiokor). Inikah yang disebut "Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami" ?


Ini adalah fakta negeri ini, tepatnya dari desa Ilomangga, Gorontalo. Anak kecil ini bernama Rasya Pomile, umurnya 1 tahun 2 bulan, beratnya hanya 7,5 kg, walaupun ketika lahir beratnya 3,6 kg. Kondisinya sangat mengenaskan karena selain berat badan kurang, Rasya belum mampu duduk dengan tegak, apalagi berdiri, tubuhnya lemas, dan sangat mudah rewel. Selain itu adanya benjolan di kaki kanannya menjadikan Rasya tidak leluasa bergerak. Dia tinggal dengan Ibu, Ayah dan Kakek serta Neneknya. Mereka sangat miskin. Hingga jam 11 siang mereka belum sarapan, karena masih harus menunggu uang yang dibawa pulang oleh Kakek dan Ayah Rasya yang kerja di ladang. Saat ini ibu Rasya berumur 17 tahun. Pada usia 16 tahun ia sudah mempunyai 2 orang anak (Rasya dan Kakaknya yang baru saja meninggal pada usia 3 tahun, karena sakit-sakitan). Nama Si Ibu muda ini adalah Iwin Puyo. Terlihat pada foto di atas (Iwin yang duduk di sisi belakang), dari wajahnya nampak Iwin menderita anemia, karena selain matanya cekung, juga tampak kantung mata yang berwarna gelap. Sebagai seorang ibu Iwin sepertinya belum siap, karena masih terlalu muda, belum cukup dewasa untuk bersikap sebagai orangtua. Menurut cerita para tetangganya, Iwin sangat sulit diajak ke posyandu, karena takut anaknya disuntik lalu jadi panas. Ia bahkan sempat lari dari Posyandu ketika giliran Rasya imunisasi DPT. Kesadaran Iwin yang kurang menjadikan Rasya hanya menerima vaksin polio dan BCG, dan tak pernah diberikan vaksin DPT atau yang lain karena takut menjadi panas. Kini Iwin tak pernah lagi membawa Rasya ke Posyandu. Nenek Rasya mengaku tidak pernah menasehati Iwin, karena diapun tidak paham tentang "masalah kesehatan jaman sekarang", demikian pengakuannya. Yang mengerikan lagi, karena Rasya mudah sekali rewel, maka Iwin dan Nenek lebih memilih memberikan Rasya makanan yang ia suka rasanya, maka setiap hari Rasya mengkonsumsi "Indomie". Walau kadang ada ikan atau sayur yang dikonsumsi orang dewasa di rumah tersebut, namun Rasya tetap memilih Indomie sebagai menunya sehari-hari. Seperti sebuah nyanyian "Indomie....seleraku...".


Dari fakta di atas, salah siapa yang seperti ini ? dosa siapa yang seperti ini ? Ada baiknya kita instrospeksi bahwa itu adalah salah kita semua. Saya mungkin juga turut bersalah karena tidak mampu berbuat banyak. Kisah-kisah seperti Rasya memang sangat banyak dan menyebar di negeri ini. Jika kita telusuri sebenarnya akan menjadi sangat baik, jika gotong-royong dan semangat "Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami" alias nasionalisme dihidupkan kembali di semua lini di negeri ini. Sehingga jika ada yang belum paham tentang kesehatan, dan membahayakan kondisi generasi penerus bangsa, maka yang lain akan peduli, membantu, menyadarkan. Bila perlu Aparat Desa turun tangan untuk membantu langsung kasus khusus seperti ini. Yang memprihatinkan pada kasus Rasya adalah sikap Sekretaris Desa yang tidak langsung menanggani dan membawa Rasya ke Puskesmas, namun justru menyarankan untuk bersabar hingga ada pendataan Askeskin yang baru. Sementara Kader Posyandu pun tidak memahami bahwa kondisi seperti Rasya masuk dalam kondisi rawan dan harus segera ditanggani dengan baik.


Kasus Rasya merupakan salahsatu cerminan, adanya permasalahan utama, yaitu kebiasaan menikah muda di daerah tersebut. Bukan hanya orangtua Rasya yang menikah muda namun juga orangtua yang lain. Hingga ada yang usia anak bungsunya yang sama dengan usia cucunya. Karena anaknya menikah muda dan diapun masih terus "memproduksi anak". Jika menikah muda tentunya belum ada kesadaran yang memadai tentang bagaimana harus bersikap sebagai orangtua, yang harus membujuk anaknya jika tidak mau makan makanan yang sehat, dan harus tetap membawa anaknya untuk divaksin, walau anak tersebut akan menjadi rewel sehari semalam karena panas, inipun sebenarnya tidak akan terlalu merepotkan karena Bidan atau Dokter biasanya telah memberikan obat penurun panas, yang dapat diberikan jika si anak panas.


Kebersamaan di desa dan peningkatan kesadaran, kepedulian dan kemampuan setiap kader dan aparat desa harus dilakukan secara terus menerus. Ibarat tanaman harus dipupuk, disiangi dan disiram secara rutin. Sehingga mereka dapat peka dan peduli dengan masyarakat, benar-benar menjadi pamong praja dan tempat bertanya bagi masyarakat. Dan akhirnya masyarakat dapat merasa diayomi, dan diberikan wawasan hidup hingga mereka dapat merangkai sendiri hari depan mereka, serta membentuk penerus Bangsa yang menjadi tanggung-jawab mereka dengan baik.


Jika kita runut, kurangnya kepedulian masyarakat pada aspek kesehatan, khususnya terkait dengan tanggung-jawab terhadap nasib generasi penerus, adalah karena ketidaktahuan mereka. Sehingga "Pendidikan Kesehatan Masyarakat" dan "Pendidikan Kebangsaan" harus diberikan sejak dini. Selain kita menanggani jangka pendek dengan memberikan makanan tambahan, penyuluhan dan mengalakkan posyandu, penangganan jangka panjang juga mutlak dilakukan. Pendidikan tentang 2 hal yang masih kurang, yaitu pemahaman tentang kesehatan bagi kehidupan dan pemahaman generasi penerus sebagai kader bangsa merupakan salahsatu solusi jangka panjang tersebut. Karena kita tidak menghendaki negeri ini akan terus menerus dilanda ketidaktahuan dan hanya mampu menyelesaikan di sisi tepi atau kulitnya saja. Semoga secuil kisah ini mampu memberikan semangat bagi kita semua agar tetap yakin untuk berbuat sebagaimana "Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami".



Jakarta 10 Juni 2008, disaat negeri ini tidak hanya butuh kata cinta, tapi benar-benar perilaku yang penuh cinta.

Diposting oleh Rinawati di 00.23 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Kamis, 24 April 2008

Ketika Menjadi Tamu di "Rumah Allah"

Alhamdulillah, Kami (Aku dan Suamiku tercinta) telah
menyelesaikan ibadah umroh dengan lancar dan selamat.
Perjalanan ibadah ini memang luar biasa indah dan nikmat. Betapa tidak menjadi nikmat, jika kita merasa begitu dekat dan lekat dengan Sang Khalik, yang Maha Tahu dan Maha Dekat dengan diri kita, dibandingkan dengan diri kita sendiri.



Ini adalah foto kami (aku dan Mas Yoyok - Suamiku tercinta) beserta para Ibu yang ada di rombongan kami. Dari kiri ke kanan : Mas Yoyok, Ibu Seman - yang telah bermurah hati mengajak kami menjadi "Tamu Allah", Aku, Ibu Cahyo dan Ibu Giyono.

Berawal dari perjalanan panjang yang ditempuh selama 9 jam di udara. Rasa jenuh dan lelah di setiap engsel tubuhku, aku redam dengan membaca beberapa bait doa, membaca buku "Haji" - pemberian dari seorang sahabat - yang sangat membantu untuk fokus bersiap diri sebagai "Tamu di Rumah Allah", atau mondar-mandir ke dapur pesawat - sekedar membuat teh sembari ngobrol dengan para pramugari, yang rata-rata cukup supel dan baik hati, atau juga berdzikir hingga tertidur.

Adzan Maghrib berkumandang menjelang kami tiba di Jeddah, bergegas kami bertayamum dan menunaikan sholat Maghrib. Pesawat Garuda yang kami tumpangi pun mendarat sangat mulus dan nyaman di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah tepat pukul 19.50. Hari itu adalah Hari Jumat tanggal 11 April 2008, kami pun langsung meluncur ke Madinah, yang punya waktu tempuh sekitar 6 jam dari Jeddah. Bis yang membawa kami ternyata cukup nyaman, bersih dan supirnya pun cukup tenang mengendalikannya, sehingga tak lama setelah menikmati makan malam di dalam bis, kami langsung terlelap "di alam 1001 malam".

Bis tiba di Madinah tepat pk. 02.30, hari Sabtu tanggal 12 April 2008. Indahnya Madinah membuat semua pegal-pegal menjadi terlupakan. Ada aura tersendiri ketika memasuki Madinah, terutama saat memandang pintu masuk Mesjid Nabawi yang sangat megah dari kejauhan.

Masyarakat Madinah umumnya bekerja sebagai pedagang, dan bersifat penyayang. Mereka lebih halus dibandingkan masyarakat suku Quraisy di Mekkah, yang jago perang. Oleh karena itu, pada masa Rasulullah ketika kalah berperang melawan orang kafir di Jabal Uhud, mayoritas korban dari pihak kaum muslim berasal dari Madinah.

Namun dalam hal berdagang orang Madinah sangat lihai. Jika kita ingin berbelanja oleh-oleh, atau souvenir dan kebutuhan harian selama di Saudi dengan harga miring, ya... di Madinah ini. Setelah ku telusuri, ternyata memang benar. Harga coklat dan kurma di Madinah selisih lebih murah hampir 12 riyals dibandingkan dengan di Mekkah dan Jeddah.

Di Madinah terdapat Mesjid Nabawi yang dibangun oleh Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang sangat megah dan luas. Beliau pun dimakamkan di dalam mesjid tersebut. Di sekitar makam Rasul itulah merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa, memohon sesuatu kepada Allah SWT, tempat itu dinamakan Raudah. "Barangsiapa yang sholat dan berdoa di Raudah, maka doa-doanya tidak akan ditolak oleh Allah SWT", demikian mustajabnya Raudah, sehingga siapapun yang berkunjung ke Mesjid Nabawi, maka pasti akan berupaya untuk sholat dan berdoa di Raudah. Tempat mustajab ini memang terlihat berbeda dengan sekitarnya, karena karpet dan langit-langit Raudah warnanya dibedakan, detailnya lebih rumit dan penuh warna.

Jamaah Perempuan hanya diperkenankan untuk mengunjungi Raudah pada pk. 08.00 - 11.00 WAS (Waktu Arab Saudi) dan pk. 20.00 - 23.00 WAS. Sehingga ketika pintu masuk menuju Raudah dibuka pada jam tersebut, maka jamaah yang masuk sangat berjejal. Biasanya Jamaah dipisahkan antara yang berbahasa Arab (Turki,Iran dan Mesir), dengan yang berbahasa Melayu (Indonesia, Malaysia dan Brunei). Jamaah yang masuk lebih dahulu adalah dari Turki, Iran, Mesir dan sekitarnya, kemudian terakhir jamaah dari Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Terdapat pengalaman menarik ketika aku masuk ke Raudah yang demikian sesak, karena sebagian jamaah akan masuk dan sebagian akan keluar, saling desak dan dorong menjadi sesuatu yang harus dialami di sini. Akupun masuk dengan berdesak-desakan, dihimpit dari kanan, kiri, didorong dari depan dan belakang. Tapi aku ikhlas dan hanya punya niat untuk sholat dan berdoa. Tiba-tiba ketika melihat diriku, para Askar "Penjaga Raudah" pun menyuruh aku untuk sholat, tapi bagaimana aku dapat sholat, jika untuk berdiripun aku sudah terhimpit ? Ternyata Subhanallah..., berkat ridho-Nya aku disapa oleh seorang Ibu, yang katanya berasal dari Jawa Barat. Ibu tersebut bertanya "Apa Ibu sudah sholat ?" saya jawab "belum", lalu kembali dia bertanya "Ibu mau sholat?" saya jawab "Iya". Kemudian ia menawarkan diri "Silakan Ibu sholat, saya akan jaga Ibu", dan sekali lagi Subhanallah.... Ibu tersebut langsung berbicara dalam bahasa Arab kepada orang-orang disekitarku, dan mereka minggir hingga aku punya cukup ruang untuk sholat multak 2 rakaat dengan tenang. Seusai sholat, aku pun menawarkan diri untuk bergantian dengan Ibu tersebut, untuk menjaganya agar ia dapat juga melakukan sholat. Alhamdulillah... aku diberi banyak kemudahan di tempat mustajab ini. Jika tak ada Ibu tadi, mana mungkin aku bisa punya ruang untuk sholat ? mana mungkin kepalaku tak terinjak ketika sholat ? Sekali lagi Alhamdulillah..... Semua karena ijin Allah SWT.

Setelah 3 hari di Madinah, dan sempat berkeliling ke beberapa tempat bersejarah, antara lain Mesjid Kuba, Mesjid Qiblatin dan Jabal Uhud. Kami pun mulai untuk melakukan Umroh yang pertama, dimulai dengan berpakaian ikhrom, dan mengambil miqot (niat), maka berangkatlah kami menuju Mekah, tepatnya menuju Masjidil Haram. Sepanjang perjalanan selama 6 jam lebih kami bertakbir, berdoa dan berdzikir hingga tertidur. Tepat pukul 22.00 WAS kami pun tiba di Mekkah. Alhamdulillah kami diperkenankan tinggal di hotel yang cukup bagus dan sangat dekat dengan Masjidil Haram, karena pintu hotel berhadapan dengan pintu 1 Masjidil Haram.

Setelah makan malam, kami pun mengambil wudhu lalu mulai melakukan Umroh. Ketika pertama kali memandang Kabah, campur aduk rasa hati ini. Subhanallah..... bangunan di depanku ini adalah Kabah, sangat berwibawa, walaupun sangat sederhana. Dimulai dengan Tawaf - mengelilingi Kabah 7 kali, sebagai bentuk keikhlasan manusia mengikuti aturan alam yang ada, dan juga menguji kita untuk berani melangkah, karena setiap saat di sekitar Kabah selalu penuh sesak dengan jamaah. Jika kita gamang untuk memulainya dan takut terinjak atau terhimpit, maka kita tak akan pernah memulai. Dilanjutkan dengan melakukan Sai (berjalan sambil berlari-lari kecil) dari bukit Safa ke bukit Marwah, sebagai bentuk keikhlasan kita melaksanakan perintah Allah, mengikuti jejak Siti Hajar ketika mencari sumber air untuk anaknya dan dirinya. Setelah putaran terakhir, yaitu putaran ke 7, kami melakukan tahalul - memotong minimal 3 helai rambut. Alhamdulillah... rangkaian ibadah Umroh yang pertama telah selesai dengan lancar, semoga ibadah kami qobul, amin....

Kemudian hari-hari kami seantiasa terisi dengan ibadah, dari mulai yang wajib hingga sunnah (dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak apa-apa) kami jalani dengan penuh suka cita. Sekali waktu ada pengalamanku yang narik, yaitu ketika aku ingin melakukan sholat tahajjud (sholat tengah malam) di dekat Kabah. Diawali dengan sesampainya aku di tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa (antara Hajar Aswad dan pintu Kabah), aku baru tersadar bahwa mukena yang biasanya ada di dalam tas pingangku ternyata tertinggal. Maka jadilah aku sholat tidak seperti biasanya, cukup dengan baju muslim panjang yang kukenakan. Menjelang sholat shubuh aku mudur ke belakang, dan sempat berbincang dengan seorang TKW asal Ambon, dia lah yang meyakinkan aku untuk tetap sholat tanpa gelisah hanya karena tidak mengenakan mukena seperti biasanya, karena menurut mahzab yang diyakini mayoritas orang Saudi, bahwa yang demikian adalah sah, sebab semua auratku telah tertutup rapat. Seusai sholat Shubuh, entah kenapa aku berniat kembali mendekat ke Kabah. Maka sambil bertawaf akupun mendekat seorang diri, dan ternyata aku diberikan kemudahan, kian dekat hingga aku bisa kembali mencium Kabah sambil memanjatkan doa - setelah sebelumnya aku lakukan bersama suamiku. Tiba-tiba aku dihimpit 2 orang tinggi besar, dan mereka melakukan sholat, akupun akhirnya melakukan sholat tepat di depan Kabah, setelah aku sadari bahwa aku telah terkepung manusia. Dari kejadian ini aku merasa diriku seperti diajak mendekat, dan diminta untuk sholat dengan khusyuk, tanpa memikirkan bagaimana pakaianku - karena kiri kanan dan belakangku telah menjagaku, hingga aku tak mungkin terinjak orang lain. Aku menyadari bahwa diriku hanya tamu, dan aku diminta untuk sholat dengan tata cara sebagaimana tuan rumah yakini. Subhanallah... Semoga aku tak salah memahami.Selesai sholat akupun kembali melakukan tawaf, dan tanpa terasa aku telah berada di luar lingkaran inti manusia, yang mengelilingi Kabah. Ketika di selesar mesjid - dalam perjalanan pulang ke hotel, tiba-tiba ada uang kertas yang terlipat-lipat jatuh menyentuh tubuhku. Entah datang darimana uang itu ? Kemudian aku ambil dan tanyakan ke sekelilingku, apakah uang ini adalah milik salahsatu dari mereka ? ternyata tak ada satupun yang mengaku memilikinya, maka akupun meletakkannya di bawah pilar, sambil berdoa semoga ditemukan yang berhak memilikinya, dan mengucapkan terima kasih dalam hati, sambil meyakini bahwa apa yang kumiliki sekarang sudah cukup.

Hari berganti hari, hingga tak terasa kami harus menjalani Tawaf Wada sebagai bentuk perpisahan kepada "Al Haram". Alhamdulillah.... aku bersyukur atas semua makna dan pengalaman yang aku dapat di "Rumah Allah".

Terdapat beberapa hal yang dapat aku cermati dan diambil hikmahnya bersama, yaitu :

  • Tahapan ibadah umroh dari sejak mandi ihrom, memakai baju ihrom, niat / mengambil miqot, bertawaf dan melakukan sai, hingga tahalul, semua ini menyiratkan makna hidup. Hidup ini sudah ada Yang Mengatur dan ada aturannya, sehingga kewajiban kita adalah menjalani hidup dengan mengupayakan berbuat baik, mematuhi aturan Nya, selalu ingat kepada Yang Mengatur - berdoa, agar tetap dilindungi dan menjalaninya dengan ikhlas. Dibalik aturan hidup yang harus kita patuhi tadi, terdapat ruang untuk kita berdialog dengan Sang Maha Mengatur hidup, yaitu dengan berdoa. Di dalam doa kita bisa memohon yang terbaik untuk kita. Karena sesungguhnya yang terbaik untuk kita hanya Allah yang tahu, bukan diri kita sendiri.
  • Allah SWT juga menyadarkan kita, bahwa sesama manusia kita harus saling menghormati, apapun status dan kedudukan atau fisik orang tersebut. Keberadaan Hajar Aswad di sisi Kabah, telah menyadarkan kita bahwa Allah SWT sangat menghargai umatnya, sebagaimana Siti Hajar. Walaupun Siti Hajar adalah budak perempuan dan berkulit hitam, namun Beliau merupakan satu-satunya hamba yang diperkenankan Allah, untuk dimakamkan di sisi Kabah. Inilah cara Allah sedemikian memuliakan umatnya, seorang ibu yang berasal dari budak berkulit hitam, yang dengan penuh keikhlasan mengasuh anaknya dalam kondisi serba terbatas, bahkan air pun tak ada, namun dia tetap selalu mematuhi perintah Allah. Maka ridho Allah datang pada Siti Hajar, mulai dari adanya mata air zam zam, hingga diberkati keturunannya menjadi nabi-nabi, dan dirinya dimakamkan di sisi Kabah. Saat ini para umat muslim dari berbagai penjuru dunia yang datang ke Al Haram, umumnya akan berusaha mencium pangkuannya - mencium "Hajar Aswad", yang dapat pula kita maknai bahwa kita harus hormat kepada orangtua, terutama ibu yang melahirkan kita, terlebih lagi jika ia adalah ibu yang senantiasa berupaya dan berdoa untuk setiap langkah hidup kita, seorang ibu yang mulia.
  • Nabi Muhammad SAW telah banyak berperan mensejahterakan umatnya. Jika tidak ada Beliau, niscaya jazirah Arab akan tetap menjadi tanah gersang, yang nyaris tak berpenghuni, dan sangat rawan kejahatan serta perkelahian. Mengingat karakter masyarakat Arab, khususnya Suku Quraisy sangat temperamental, berbicarapun mereka sulit sekali untuk halus, suaranya selalu keras seperti orang membentak. Beliaulah yang telah memotivasi orang untuk senantiasa ingat kepada Allah. Sebagai bentuk kendali terhadap hawa nafsu yang cenderung menyesatkan.
  • Kehadiran para Nabi menjadikan jazirah Arab, khususnya sepanjang Mekah dan Madinah sarat dengan nilai sejarah dan makna. Allah telah menunjukkan keadilan bagi negeri yang gersang ini, melalui perantaraan para Nabi tersebut, khususnya Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW, yaitu dengan menjadikan Kabah sebagai orientasi ibadah umat muslim, yang kemudian didatangi oleh para manusia muslim dari berbagai penjuru dunia guna melakukan haji dan umroh. Maka jazirah Arab mau tidak mau menjadi negeri terbuka, dapat maju dengan pesat, sekaligus mengajarkan penduduknya agar dapat selalu bersikap santun sebagai tuan rumah. Maknanya adalah dibalik semua ridho, dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah, pasti terkandung tantangan yang harus dihadapi di dalam hidup. Dibalik nikmatnya masyarakat Arab Saudi dengan keberadaan Kabah, namun terdapat tantangan untuk mampu menjadi tuan rumah dan menjaga hubungan antar negara dengan baik, serta tetap memelihara nilai-nilai sejarah yang ada.
  • Tanah Haram ibarat surga dunia, karena selama dunia masih ada, berbagai usaha pencarian rejeki di tanah ini akan tetap ada dan langgeng. Maka tak jarang orang memanfaatkan untuk membuka bisnis di Mekah - Medinah, karena sangat ideal. Sekali kita dipercaya di sini, maka bisnis itupun akan langgeng sepanjang kita dapat mempertahankan kepercayaan tersebut. Karena Tanah Haram tak pernah sepi, setiap pagi, siang, malam, tegah malam seperti tak ada beda. Tak ada waktu tidur di sana. Setiap saat orang terjaga dan beribadah.
  • Pemerintah Arab Saudi sangat memperhatikan asset negerinya, dan tahu betul Tanah Haram (sepanjang Mekah-Madinah), walau tidak diperkenankan / haram didatangi oleh non muslim, namun sangat diminati semua orang dari seluruh penjuru dunia. Maka diterapkan aturan untuk tidak memperkenankan warganegara lain untuk membuka usaha di negerinya. Sehingga banyak usahawan dari luar negeri memilih bekerjasama dengan warga Saudi, agar mendapatkan ijin usaha. Walaupun hal ini berdampak positif untuk menjaga asset dalam negeri untuk tetap dimiliki oleh penduduk asli, namun ada dampak negatifnya, yaitu warga asli Saudi Arabia menjadi cenderung malas, karena dengan mencantumkan namanya sebagai pemilik usaha dia telah mendapatkan nafkah rutin, walaupun dia tidak mengelola usaha tersebut secara langsung.

Demikianlah Sahabat sekedar oleh-oleh dari Tanah Suci yang dapat aku bagikan, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wassalamualikum Wr. Wb

Jakarta, April 2008. Setelah kepulanganku, saat negeri ini kian runyam.

Diposting oleh Rinawati di 00.23 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Lencana Facebook

Profil | Buat Lencana Anda
Profil Facebook Rinawati Sucahyo

Arsip Blog

  • ►  2008 (7)
    • ►  Maret 2008 (1)
    • ►  April 2008 (2)
    • ►  Juni 2008 (2)
    • ►  November 2008 (2)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Januari 2009 (1)
  • ►  2011 (5)
    • ►  Maret 2011 (3)
    • ►  April 2011 (2)
  • ▼  2012 (1)
    • ▼  Februari 2012 (1)
      • TATA DESA

About Me

Foto saya
Rinawati
Lihat profil lengkapku
Tema Jendela Gambar. Gambar tema oleh IntergalacticDesignStudio. Diberdayakan oleh Blogger.